Satu Jiwa Satu Bangsa: Mewarisi Jiwa 45 dalam Aksi Kemanusiaan
- 19 Agt 2026 08:48 WIB
- Surabaya
RRI. CO. iD, Surabaya - Sebagaimana diungkapkan oleh Satrio Budiarso (Ketua Komunitas Roodeburg Soerabaia) dalam dialognya di RRI Surabaya, tentang : Satu Jiwa, Satu Bangsa; Mewarisi Jiwa 45 dalam aksi kemanusiaan, diuraikannya
1. Apa Maksud "Mewarisi Jiwa 45"?
"Jiwa 45" adalah rangkuman nilai-nilai luhur yang melandasi Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Ia bukan sekadar angka tahun, tetapi semangat kolektif para pendiri bangsa.
Inti dari "Jiwa 45" meliputi:
- Nasionalisme: Cinta tanah air di atas kepentingan golongan. Para pejuang rela mati demi "Indonesia", bukan demi kelompoknya.
- Gotong Royong: Semangat bahu-membahu. Merdeka diraih bukan oleh 1 orang, tapi oleh rakyat dari Sabang sampai Merauke.
- Relawan & Pengorbanan: Mendahulukan kepentingan bangsa. Hartanya, tenaganya, bahkan nyawanya dikorbankan untuk kemerdekaan.
- Persatuan dalam Keberagaman: "Bhinneka Tunggal Ika". Meski berbeda suku, agama, bahasa, tetap satu tujuan: Indonesia merdeka.
- Keberanian Moral: Berani melawan ketidakadilan dan penjajahan, berani mengambil sikap untuk kebenaran.
"Mewarisi Jiwa 45" berarti menghidupkan kembali 5 nilai itu di zaman sekarang. Bukan dengan mengangkat senjata, tetapi dengan mengangkat kemanusiaan.
2. "Dengan Jiwa 45 yang Membara Bisa Berkiprah pada Kemanusiaan"
Kalimat ini adalah bentuk aktualisasi. "Membara" artinya semangat itu hidup, tidak padam, dan menjadi energi penggerak.
Bagaimana caranya?
Ketika seseorang punya "Jiwa 45", maka ia akan:
- Peka terhadap penderitaan: Sama seperti pejuang dulu peka terhadap penderitaan bangsa dijajah, hari ini kita peka terhadap kemiskinan, bencana, sakit, dan ketidakadilan sosial.
- Bertindak tanpa pamrih: Aksi kemanusiaan tidak menunggu imbalan. Seperti dulu para pejuang tidak bertanya "aku dapat apa", tapi "aku bisa berbuat apa".
- Melampaui sekat: Bantuan diberikan tanpa melihat KTP, agama, atau partai. Karena yang dilihat adalah "sesama anak bangsa". Ini cerminan semangat Sumpah Pemuda dan Proklamasi.
Jadi, "berkiprah pada kemanusiaan" adalah wujud modern dari perjuangan. Dulu medannya di medan perang, sekarang medannya di dapur umum, posko bencana, rumah sakit, dan ruang kelas.
3. Hubungan dengan "Satu Jiwa - Satu Bangsa"
"Satu Jiwa - Satu Bangsa" adalah benang merah dan tujuannya.
Maknanya:
- Satu Jiwa: Kita punya rasa yang sama. Rasa sakit saudara kita adalah rasa sakit kita. Rasa bangga atas Indonesia adalah rasa bangga kita bersama. Ini adalah empati kolektif warisan 1945.
- Satu Bangsa: Dari "satu jiwa" itu lahir tindakan kolektif. Kita sadar bahwa nasib kita terikat. Indonesia kuat kalau rakyatnya saling menguatkan.
Mewarisi Jiwa 45 → melahirkan semangat yang membara → diwujudkan dalam Aksi Kemanusiaan → tujuannya menciptakan Satu Jiwa - Satu Bangsa yang solid
Singkatnya: Jiwa 45 adalah "bahan bakarnya". Aksi kemanusiaan adalah "mesinnya". Dan "Satu Jiwa Satu Bangsa" adalah "tujuan akhirnya".
Dengan demikian, mewarisi Jiwa 45 di abad 21 bukan nostalgia. Ia adalah keniscayaan. Di tengah tantangan polarisasi dan individualisme, hanya dengan semangat yang sama seperti 1945 kita bisa menjawab masalah kemanusiaan. Karena selama masih ada "Satu Jiwa", maka "Satu Bangsa" akan tetap berdiri
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....