Memahami Anak Slow Learner Temukan Potensi Diri

  • 16 Agt 2026 16:10 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Mengasuh dan mendampingi anak dengan kebutuhan khusus tentu menghadirkan tantangan tersendiri bagi setiap orang tua. Cerita inspiratif kali ini hadir dalam program siaran Dialog Ruang Disabilitas, yang menghadirkan narasumber Asti bersama sang putra, Bayu Berkah Illahi. Bayu merupakan seorang anak penyandang slow learner (lambat belajar) atau disleksia yang kini terus berjuang mengenali potensi diri dan menyalurkan energinya ke berbagai kegiatan positif.

Dalam dialog tersebut, Asti membagikan pengalaman awal saat pertama kali menyadari kondisi sang putra. Pada masa awal tumbuh kembang, Bayu tampak tumbuh seperti anak-anak pada umumnya tanpa ada tanda-tanda yang mencolok.

Namun, perubahan mulai terlihat jelas saat Bayu menginjak jenjang kelas 3 sekolah dasar, tepatnya ketika sistem pembelajaran kembali beralih ke tatap muka setelah masa pandemi COVID-19.

Bunda Asti mengungkapkan “Tanda-tanda disleksia dan slow learner Bayu mulai kelihatan dari hasil rapotr Bayu yang sering berada di bawah rata-rata teman-temannya. Proses belajar Bayu membutuhkan perhatian ekstra karena ia harus diajar secara berulang-ulang,” ujar Asti.

Bayu mengalami kesulitan dalam mengingat bacaan maupun tulisan; materi atau kalimat yang baru saja dibaca sering kali langsung terlupa ketika ia mencoba beralih ke halaman atau baris berikutnya.

Meski memiliki keterbatasan dalam penguasaan akademis visual seperti membaca dan menulis, Asti tidak patah semangat untuk terus menggali potensi lain yang dimiliki Bayu.

Menariknya, Bayu kurang tertarik pada aktivitas melukis atau seni rupa yang menuntut ketenangan ekstra. Bagi Bayu, kegiatan yang terlalu banyak berdiam diri justru membuatnya merasa bosan karena ia adalah anak yang aktif bergerak dan senang berinteraksi.

Melihat karakter sang anak yang kinestetik dan komunikatif, Asti mengarahkan Bayu pada bidang yang mengandalkan keaktifan bicaranya. Bayu terbukti lebih bersemangat saat terlibat dalam kegiatan public speaking, hingga bidang fotografi di Rumah Anak Prestasi yang merupakan pusat layanan publik inklusif gratis dari Pemerintah Kota Surabaya untuk mengembangkan bakat, kreativitas, dan kemandirian anak-anak berkebutuhan khusus atau disabilitas.

Aktivitas public speaking dan fotografi yang menuntut eksplorasi menjadi salah satu hal yang membuat Bayu merasa sangat gembira saat menjalankannya.

Selain menyukai dunia komunikasi dan fotografi, Bayu juga memiliki kesenangan tersendiri di luar aktivitas formalnya.

Dalam sesi wawancara, Bayu dengan polos dan penuh semangat menceritakan hobinya mengisi waktu luang. “Biasanya aku suka mancing ikan. Kalau lagi libur gitu aku minta ditemani mancing di Waduk,” ujar Bayu.

Biasanya, Bayu menghabiskan waktu sore harinya dengan memancing di Waduk Kedurus bersama rekan atau didampingi ibunya. Berbagai jenis ikan lokal seperti ikan patek hingga ikan mujair menjadi hasil tangkapan yang kerap ia dapatkan. Melalui ruang dialog ini, kisah Bayu dan Asti memberikan pelajaran berharga bahwa setiap anak memiliki ritme belajar dan keistimewaan tersendiri yang patut didukung penuh oleh keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....