Peran Vital Guru Pendamping bagi ABK: Bukan Sekadar Pendamping
- 09 Agt 2026 08:28 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya : Peran pendamping bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah inklusi atau shadow teacher masih sering dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat, termasuk orang tua. Padahal, keberadaan pendamping ini memiliki fungsi strategis dalam mengoptimalkan tumbuh kembang serta kemampuan adaptasi anak di lingkungan sekolah.
Isu krusial ini menjadi topik utama dalam Dialog Disabilitas yang disiarkan oleh Pro 4 RRI Surabaya. Dalam dialog interaktif tersebut, hadir sebagai narasumber Mira Dian, seorang Konsultan Pendamping Anak (KPA) sekaligus Terapis ABK. Mira memaparkan secara mendalam mengenai fakta lapangan serta dinamika yang dihadapi anak-anak berkebutuhan khusus saat menempuh pendidikan di sekolah formal.
Ia menyayangkan masih banyaknya anggapan keliru terkait fungsi dasar seorang guru pendamping. Menurut Mira, tidak sedikit orang tua yang enggan mempergunakan jasa pendamping karena merasa anak mereka sudah bisa beradaptasi secara mandiri.
"Orang tua masih menyepelekan fungsi guru pendamping karena anaknya dianggap sudah baik. Padahal shadow teacher itu penting, terutama untuk anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) atau yang fokusnya kurang, tetapi untuk akademik masih bisa mengikuti," ujarnya.
Mira menjelaskan bahwa anak dengan kondisi seperti ASD atau gangguan pemfokusan (seperti ADHD) sering kali memiliki kemampuan akademik yang sangat baik, bahkan tidak jarang melampaui rata-rata teman sebayanya.
Namun, tantangan terbesar mereka justru terletak pada regulasi emosi, pemahaman instruksi yang kompleks, serta interaksi sosial di dalam kelas. Di sinilah peran penting guru pendamping untuk menjembatani hambatan-hambatan non-akademik tersebut.
Tugas seorang guru pendamping sejatinya jauh lebih kompleks daripada sekadar menemani anak duduk di dalam kelas. Mereka bertugas menyederhanakan instruksi dari guru utama, membantu anak mengendalikan dorongan perilaku atau kecemasan, serta mengajarkan cara berinteraksi yang tepat dengan teman-teman sekelasnya.
Tanpa pendampingan yang tepat, potensi akademik anak yang baik bisa terhambat oleh frustrasi akibat kesulitan mengekspresikan diri atau memahami situasi sosial. Lebih lanjut, Mira menegaskan bahwa pendampingan oleh shadow teacher sifatnya tidak permanen selamanya.
Justru, tujuan akhir dari keberadaan pendamping adalah melatih kemandirian anak hingga mereka secara bertahap tidak lagi membutuhkan bantuan di sekolah. Shadow teacher akan mengikis tingkat bantuan (fading support) seiring dengan meningkatnya pemahaman dan kontrol diri yang dimiliki oleh sang anak.
Mengakhiri sesi dialog di Pro 4 RRI Surabaya, Mira mengajak para orang tua dan pihak sekolah untuk mengubah pola pikir terhadap shadow teacher. Kerja sama yang sinergis antara guru kelas, orang tua, terapis, dan pendamping sangat diperlukan demi menciptakan lingkungan inklusif yang ramah. Pemahaman yang tepat dari orang tua diharapkan dapat menghilangkan stigma dan memberikan hak pendampingan yang optimal bagi anak berkebutuhan khusus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....