Kekeringan Meluas, BPBD Jatim Perkuat Mitigasi
- 13 Agt 2026 09:44 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Kekeringan di Jawa Timur pada musim kemarau 2026 telah meluas mencakup 22 kabupaten/kota, dengan 15 di antaranya mengalami kekurangan air bersih hingga Agustus 2026.
- BPBD Jawa Timur mencatat peningkatan signifikan dibandingkan periode sama tahun 2025 yang hanya mencakup enam hingga tujuh daerah.
- Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menyatakan kondisi kekeringan tahun ini lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya.
RRI.CO.ID, Surabaya - Kekeringan di Jawa Timur pada musim kemarau 2026 meluas dibandingkan tahun sebelumnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Jawa Timur mencatat hingga Agustus, sebanyak 22 kabupaten/kota terdampak kekeringan, dengan 15 kabupaten di antaranya mengalami kekurangan air bersih.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, mengatakan kondisi tahun ini lebih kering dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut Satriyo, pada Agustus tahun 2025, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kekeringan masih sekitar enam hingga tujuh daerah. Sementara tahun ini, cakupannya telah meningkat secara signifikan.
“Memang tahun ini kondisinya lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu, sekitar Agustus itu hanya enam sampai tujuh kabupaten/kota yang mengalami kekeringan. Tahun ini sudah lebih banyak, sehingga penanganannya juga harus kita tingkatkan,” kata Satriyo saat diwawancarai RRI Surabaya, Selasa 11 Agustus 2026.
Sejumlah wilayah telah mendapatkan bantuan distribusi air bersih. BPBD Jawa Timur juga memberi perhatian khusus terhadap kondisi di Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, dan Bondowoso yang mengalami dampak kekeringan cukup serius.
Satriyo mengatakan distribusi air bersih dilakukan berdasarkan laporan dan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
“Untuk daerah yang sudah mengalami kekurangan air bersih, dropping terus kita lakukan sesuai kebutuhan dan laporan dari daerah. Pasuruan, Probolinggo, dan Bondowoso menjadi beberapa wilayah yang mendapat perhatian,” ujarnya.
Sebelumnya, data BPBD Jawa Timur hingga pertengahan Juli 2026 mencatat 14 kabupaten telah menetapkan status kedaruratan kekeringan. Sebanyak 11 daerah berstatus Siaga Darurat dan tiga daerah berstatus Tanggap Darurat.
BPBD Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten dan kota, dunia usaha, serta lembaga sosial juga telah menyalurkan sekitar 1,035 juta liter air bersih melalui 207 rit mobil tangki, menjangkau 42 kecamatan, 56 desa, dan 73 dusun.
Satriyo menjelaskan, BPBD memetakan kondisi kekeringan berdasarkan tingkat kesulitan masyarakat mendapatkan sumber air. Ada tiga kategori yang digunakan, yakni kering langka, kering langka terbatas, dan kering kritis.
Kering langka menunjukkan masyarakat mulai mengalami kesulitan mendapatkan sumber air. Pada kategori kering langka terbatas, jarak masyarakat menuju sumber air semakin jauh, sedangkan kering kritis menunjukkan kondisi paling berat karena sumber air berada pada jarak yang lebih jauh dan kebutuhan masyarakat terhadap bantuan air semakin tinggi.
“Jadi kita tidak hanya melihat jumlah wilayahnya, tetapi juga kondisi dan jarak masyarakat terhadap sumber air. Dari situ kita menentukan prioritas penanganannya,” ujar Satriyo.
Informasi tersebut penting diketahui masyarakat, karena kategori kekeringan tidak hanya menunjukkan ada atau tidaknya kekurangan air, tetapi juga menggambarkan tingkat kesulitan masyarakat memperoleh air bersih. Selain dropping air, BPBD Jawa Timur terus memperkuat mitigasi agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.
Langkah yang dilakukan antara lain melalui pipanisasi, pengeboran sumber air, penyediaan tandon, serta sosialisasi penghematan air kepada masyarakat. Satriyo mengatakan penanganan jangka pendek melalui distribusi air bersih perlu diimbangi dengan penyediaan sumber air dan jaringan distribusi untuk jangka panjang.
“Untuk jangka panjang, tentu pipanisasi dan pengeboran sumber air harus terus diperkuat. Sosialisasi hemat air juga harus dilakukan secara masif agar masyarakat ikut menjaga ketersediaan air,” katanya.
BPBD Jawa Timur juga terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota untuk memantau perkembangan kekeringan dan memastikan bantuan diberikan sesuai kebutuhan masyarakat. Masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan segera melaporkan apabila mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, BPBD Jatim meminta kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan melalui distribusi air saat terjadi krisis, tetapi juga dengan memperkuat sumber air dan jaringan distribusinya sebagai langkah mitigasi jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....