Guru Al-Qur’an Tak Cukup Hanya Mengajar
- 12 Agt 2026 17:24 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya— Penguatan pendidikan Al-Qur’an di sekolah tidak cukup hanya dengan menghadirkan program tahsin dan tahfidz, tetapi membutuhkan guru yang terus meningkatkan kompetensi serta kurikulum yang mampu menjawab kebutuhan peserta didik. Semangat inilah yang didorong Griya Al Qur’an melalui unit Griya Kualita dalam mengembangkan kemitraan kelembagaan bersama sekolah dan perguruan tinggi.
Salah satu kemitraan tersebut terjalin dengan SMP Mujahidin Surabaya, yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran Al-Qur’an bagi siswa, tetapi juga menyasar peningkatan kapasitas guru dan pengembangan kurikulum. Manager Kurikulum dan Kemitraan Griya Al Qur’an, Ustadz Aziz Sulhon, mengatakan pola kemitraan tersebut merupakan pengembangan dari program Rumah Al Qur’an menuju kerja sama yang lebih luas.
“Berangkat dari kemitraan yang awalnya bersifat Rumah Al Qur’an, kini berkembang menjadi kemitraan secara kelembagaan. Di antaranya dengan sekolah dan kampus, termasuk dalam pengembangan kurikulum dan pendampingan guru Al-Qur’an hingga kepada siswa-siswinya,” jelas Ustadz Aziz.
| Baca juga: PTKNI Dorong Rekrutmen CPNS Guru Berimbang |
Bagi SMP Mujahidin, kemitraan dengan Griya Al Qur’an bukan proses yang muncul secara instan. Kepala SMP Mujahidin, Ustadzah Cicik Mursyidah, S.Pd., mengungkapkan, gagasan kerja sama telah muncul sejak kepala sekolah sebelumnya dan kemudian berkembang setelah adanya pertemuan dengan Ustadz Imam Masruri.
“Keinginan untuk bermitra sebenarnya sudah muncul sejak kepala sekolah sebelumnya. Kami berjumpa dengan Ustadz Masruri dan kemudian hubungan itu terus berkembang,” tutur Ustadzah Cicik. Hubungan tersebut semakin erat karena sejumlah guru SMP Mujahidin sebelumnya telah menjadi siswa kelas tahfidz di Griya Al Qur’an, bahkan beberapa di antaranya pernah mengikuti wisuda tahfidz.
Dari hubungan personal tersebut, kolaborasi kemudian berkembang menjadi kemitraan kelembagaan dan diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman pada 2025. Bagi sekolah yang mengusung visi “Bertakwa dan Berprestasi”, pengembangan pembelajaran Al-Qur’an dipandang harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Bagi kami, tidak cukup hanya menyelenggarakan program tahfidz. SDM asatidz dan asatidzah juga perlu terus ditingkatkan kompetensinya agar relevan dengan kebutuhan pembelajaran,” jelas Ustadzah Cicik. Karena itu, pendampingan Griya Kualita diarahkan tidak sekadar membuat guru mampu mengajar, tetapi juga meningkatkan kualitas bacaan, hafalan, keterampilan mengajar, dan kemampuan menghadapi dinamika siswa.
Ustadz Aziz menegaskan, guru Al-Qur’an harus terus bertumbuh agar mampu menjadi pengajar sekaligus teladan bagi peserta didik. “Kita menyiapkan guru agar memiliki kualifikasi sebagai trainer. Guru bukan hanya mengajar, tetapi juga harus terus meningkatkan hafalan, skill, dan kompetensinya,” terang Ustadz Aziz.
Menurutnya, peningkatan kapasitas guru merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem pembelajaran Al-Qur’an yang berkelanjutan. “Untuk membentuk ekosistem yang baik dan berkesinambungan, kita mulai dari guru pengampu yang nantinya menjadi role model. Ketika guru berkembang, harapannya implementasinya juga semakin baik pada siswa, sehingga bacaan dan hafalan mereka ikut meningkat,” tambahnya.
Melalui Griya Kualita, Griya Al Qur’an menempatkan diri bukan hanya sebagai penyedia pengajar, melainkan sebagai partner pengembangan dan penjamin mutu pembelajaran Al-Qur’an. Pendampingan mencakup peningkatan kompetensi guru, implementasi metode tahsin dan tahfidz, hingga pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan kebutuhan lembaga.
Dampak pendampingan tersebut mulai dirasakan SMP Mujahidin setelah lebih dari enam bulan menjalani pembinaan. “Yang paling terlihat adalah meningkatnya kepercayaan diri guru ketika menghadapi berbagai situasi di sekolah, termasuk dalam menangani siswa. Pembelajaran juga menjadi lebih efektif karena kami mendapatkan pendampingan dari tim Griya Al Qur’an,” ungkap Ustadzah Cicik.
Ia menilai Griya Al Qur’an telah berkembang menjadi partner dalam proses pengembangan sekolah, bukan sekadar pihak yang memberikan pengajaran. “Bagi kami, Griya Al Qur’an hadir bukan hanya memberikan pengajaran. Setelah enam bulan pembinaan, ternyata banyak diskusi dan pendampingan. Mereka menjadi partner dalam mengembangkan kurikulum pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan sekolah,” tuturnya.
Kemitraan tersebut kembali diperkuat melalui penandatanganan MoU antara SMP Mujahidin dan Griya Kualita pada Rabu, 12 Agustus 2026, pukul 10.00 WIB di Kantor Griya Al Qur’an Surabaya, Jalan Dinoyo 57. Ustadzah Cicik Mursyidah, S.Pd., bersama Head of Griya Kualita Ustadz Imam Masruri menandatangani kesepakatan tersebut sebagai bentuk keberlanjutan kolaborasi dalam membangun sistem pendidikan Al-Qur’an yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Lebih jauh, Griya Al Qur’an membuka pola kemitraan Rumah Al Qur’an maupun Kemitraan Kelembagaan yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga lainnya. “Efek berantainya bukan hanya tentang seberapa lancar bacaan dan sebanyak apa hafalannya, tetapi sejauh mana Al-Qur’an ini bisa membentuk karakter anak-anak kita,” imbuh Ustadzah Cicik, menegaskan bahwa tujuan akhir pendidikan Al-Qur’an bukan semata kemampuan membaca dan menghafal, melainkan menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam karakter dan kehidupan peserta didik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....