BI Jatim Dorong Pembiayaan Kreatif Perkuat Investasi Daerah

  • 11 Agt 2026 17:49 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Bank Indonesia (BI) Jawa Timur mendorong pemerintah daerah memperkuat pembiayaan kreatif untuk menjaga investasi dan pertumbuhan ekonomi. Dorongan itu disampaikan Kepala Perwakilan BI Jawa Timur, Ibrahim, saat membuka Rakor Percepatan Investasi, Selasa, 11 Agustus 2026.

Ibrahim mengatakan, investasi menjadi komponen penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan. Menurutnya, porsi investasi dalam struktur produk domestik regional bruto (PDRB) Jawa masih berada di kisaran 30 persen.

“Untuk mendukung pertumbuhan tinggi berkelanjutan, tinggi inklusi dan berkelanjutan, maka mau tidak mau porsi investasi harus kita pertahankan bahkan di atas 30 persen,” katanya.

Ia menilai dukungan investasi tidak hanya berasal dari sektor swasta, tetapi juga membutuhkan stimulasi pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain itu, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) juga perlu diarahkan untuk membuka ruang investasi.

Ibrahim menjelaskan, tantangan pembiayaan daerah semakin kompleks seiring penyesuaian atau realokasi anggaran untuk program prioritas nasional. Karena itu, daerah perlu mulai mencari sumber pembiayaan alternatif yang lebih kreatif.

“Sekarang ke depan menjadi motivasi bagi kita mencari sumber pembiayaan yang lebih kreatif,” ujarnya.

Namun, ia menekankan pembiayaan kreatif tetap harus mengedepankan prinsip kehati-hatian atau prudential. Ibrahim menyebut Pulau Jawa memiliki posisi strategis karena menyumbang sekitar 60 persen porsi ekonomi nasional.

Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Ia mengatakan daya saing Jawa masih lebih baik dibandingkan nasional dan menjadi kekuatan yang perlu terus dijaga.

Pemerintah daerah juga didorong mengoptimalkan potensi tersebut melalui dukungan fiskal dan investasi. “Bagaimana kreatif financing tidak menciptakan beban pada pembiayaan ekonomi ke depan, tetapi bagaimana fiskal sistem menyambung kepada investment continuity,” katanya.

Menurut Ibrahim, kesinambungan investasi harus menjadi perhatian agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Rakor tersebut menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, Kementerian Keuangan, Bappenas, Otoritas Jasa Keuangan, dan lembaga pembiayaan.

Forum juga membahas penguatan kapasitas fiskal daerah melalui pembiayaan kreatif. Ibrahim mengatakan, Jawa diperkirakan tetap memiliki pertumbuhan ekonomi kuat dengan kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Kondisi itu membutuhkan penguatan konsumsi, investasi, konsumsi pemerintah, serta ekspor secara bersamaan.

“Pertumbuhan ekonomi ke depan tetap didukung oleh investasi saat ini yang berasal dari swasta maupun dari pemerintah,” katanya.

Ia berharap hasil rakor dapat diterapkan pemerintah daerah untuk memperkuat investasi dan pertumbuhan ekonomi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....