Ngobras Pro1 Angkat Pesona Musik Kolintang Bersama P2Kol Jatim

  • 07 Agt 2026 18:21 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID,SURABAYA - Program Ngobras Pro 1 RRI Surabaya menghadirkan Komunitas Pecinta Kolintang dalam siaran yang berlangsung hangat dan interaktif, Kamis 6 Agustus 2026. Dipandu oleh Joe Adi Yuanda, acara ini mengupas sejarah, filosofi, hingga perkembangan alat musik kolintang di Surabaya dan Jawa Timur bersama pegiat serta pelatih kolintang, Ambrosius M.Loho,M.Fil., dan Majelis Pendamping Musik Gereja GKI Citraland Surabaya, Hudy M. Suryawan.

Dalam dialog tersebut, Ambrosius menjelaskan bahwa kolintang merupakan alat musik khas Minahasa, Sulawesi Utara, yang terbuat dari kayu dan telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda pada Desember 2025. Ia juga meluruskan perbedaan kolintang dengan kulintang yang berasal dari wilayah lain dan memiliki bentuk maupun karakter bunyi yang berbeda. "Kolintang bukan hanya warisan masyarakat Minahasa, tetapi kini menjadi milik seluruh bangsa Indonesia yang patut dijaga bersama," ujarnya.

Ambrosius mengungkapkan, dirinya aktif mengenalkan budaya melalui dunia pendidikan di Universitas Ciputra Surabaya dengan menyisipkan nilai-nilai kebangsaan dalam perkuliahan. Selain mengajar, ia juga melatih kelompok kolintang dan menulis buku mengenai tokoh serta filosofi alat musik tersebut. "Melalui kolintang, mahasiswa belajar menghargai keberagaman budaya Indonesia," katanya.

Sementara itu, Hudy M. Suryawan menceritakan pengalaman GKI Citraland Surabaya yang telah menggunakan kolintang sebagai bagian dari pelayanan musik gereja selama sekitar delapan tahun terakhir. Menurutnya, saat ini terdapat empat kelompok kolintang yang terdiri atas anak-anak, remaja, bapak-bapak, hingga ibu-ibu. "Kolintang menjadi media pelayanan sekaligus pelestarian budaya yang menyenangkan bagi semua usia," tuturnya.

Perkembangan kolintang di Jawa Timur juga dinilai cukup pesat. Melalui Paguyuban Pelatih Kolintang Jawa Timur (P2Kol Jatim), lebih dari 20 pelatih aktif membina sekitar 104 kelompok kolintang yang tersebar di gereja, sekolah, dan sanggar seni. "Masyarakat Jawa Timur sangat terbuka menerima kolintang meski bukan berasal dari daerah ini. Ini menunjukkan semangat persatuan dalam keberagaman," ujar Ambrosius.

Dalam kesempatan tersebut, kedua narasumber menjelaskan filosofi kolintang yang mengajarkan kerja sama, disiplin, dan saling menghargai. Setiap pemain memiliki peran berbeda, mulai melodi, pengiring, selo, hingga bass, namun seluruhnya berpadu menciptakan harmoni. "Tidak ada bagian yang lebih penting. Semua memiliki fungsi yang sama untuk menghasilkan musik yang indah," kata Hudy

Dialog juga membahas sisi teknis kolintang, mulai dari bahan baku kayu, proses penyetelan nada, hingga tantangan harga satu set kolintang yang relatif tinggi. Meski demikian, berbagai pihak terus berupaya memperluas akses, termasuk melalui pembuatan kolintang portabel dan bantuan alat musik kepada sekolah-sekolah. Para pendengar pun antusias mengajukan pertanyaan mengenai tangga nada, oktaf, dan teknik memainkan kolintang.

Menutup acara, kedua narasumber berharap kolintang semakin dikenal generasi muda dan terus berkembang di berbagai komunitas. Sebagai bentuk apresiasi, Ambrosius menyerahkan buku karya tulisnya kepada tim Pro 1 RRI Surabaya. "Kami berharap semakin banyak anak muda yang mencintai dan mempelajari kolintang, karena di dalamnya tersimpan nilai budaya, karakter, dan semangat kebersamaan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....