Amien Widodo Dorong Sekolah Aman dari Ancaman Gempa
- 01 Agt 2026 10:57 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Sekolah harus menjadi lingkungan yang aman dari ancaman gempa melalui kesiapsiagaan dan mitigasi menyeluruh. Perencanaan berbasis risiko dinilai menjadi langkah penting melindungi guru maupun siswa.
Pakar kebencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Amien Widodo, menegaskan gempa tidak dapat diprediksi maupun dihindari. "Karena itu, kesiapan menghadapi gempa harus terus diperkuat," katanya, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Menurut Amien, catatan gempa besar wajib menjadi dasar penyusunan tata ruang dan pembangunan sekolah. Penelitian kegempaan juga harus menjadi acuan edukasi masyarakat di daerah rawan.
Ia menegaskan sejarah menunjukkan gempa tidak pernah memberikan peringatan sebelum terjadi. "Kesiapan prosedural menentukan nasib penghuni bangunan saat gempa," ujarnya.
Amien mencontohkan gempa Meksiko 1985 dan Sichuan 2008 yang menewaskan ribuan siswa. Gempa Cianjur 2022 juga menyebabkan banyak guru dan murid menjadi korban.
Menurutnya, pelajaran dari berbagai bencana menunjukkan keselamatan bukan ditentukan keberuntungan. "Kelangsungan hidup bergantung pada penguasaan prosedur penyelamatan dalam hitungan detik," katanya.
Ia menjelaskan sekolah memiliki tingkat kerentanan tinggi saat terjadi gempa bumi. Kepadatan penghuni, bangunan portabel, siswa usia dini, serta benda tidak terikat meningkatkan risiko korban.
"Guru menjadi tokoh utama dalam penyelamatan karena siswa bergantung pada arahan mereka," ujar Amien. Karena itu, pelatihan rutin harus terus dilaksanakan di sekolah.
Amien menilai sosialisasi sekolah aman gempa harus menjadi prioritas pengurangan risiko bencana. Gempa berpotensi memicu bahaya berantai atau earthquake cascading hazards.
"Bahaya berantai sering menimbulkan dampak lebih besar dibanding guncangan awal," katanya. Longsor, likuifaksi, tsunami, hingga kebakaran dapat terjadi secara berurutan.
Ia menambahkan kerusakan infrastruktur juga menghambat evakuasi dan penanganan korban. Kondisi tersebut pernah terjadi pada bencana di Aceh, Palu, dan Fukushima.
Amien mengingatkan mitigasi tidak boleh hanya berfokus pada kekuatan bangunan. "Waktunya membangun budaya proaktif melalui pendidikan, latihan, dan kesiapsiagaan di setiap sekolah," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....