Muslim Taat Didorong Memberi Dampak Positif Bagi Kehidupan Sesama

  • 27 Jul 2026 07:49 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Menjadi seorang muslim yang taat tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan ibadah, tetapi juga melalui sikap dan perilaku yang memberikan manfaat bagi sesama. Hal tersebut disampaikan Ustaz M. Tamhid Assiddiqi, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Tenggilis Mejoyo Kementerian Agama Kota Surabaya, dalam program Cahaya Pagi yang disiarkan pada Senin, 27 Juli 2026.

Dalam pemaparannya, Ustaz Tamhid menjelaskan bahwa ketaatan kepada Allah SWT bukan sekadar rutinitas tanpa makna atau beban yang memberatkan. Berdasarkan QS. An-Nahl ayat 97, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dijanjikan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) oleh Allah SWT. Menurutnya, menjadi muslim yang taat bukan berarti hidup tanpa ujian dan kesulitan. Ketaatan justru menjadi pegangan yang memberikan arah ketika seseorang menghadapi persoalan hidup serta menjadi penguat saat berada dalam kondisi sulit.

Ustaz Tamhid mengatakan, menjadi muslim yang taat bukan berarti hidupnya bebas dari ujian atau masalah, melainkan ketaatan tersebut memberikan arah saat tersesat dan pegangan saat jatuh. "Ia menegaskan bahwa nilai ketaatan akan membentuk ketenangan jiwa dalam menjalani kehidupan," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa seorang muslim yang taat memandang salat bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan sebagai tempat beristirahat dari berbagai persoalan dunia. Selain itu, seorang muslim juga berupaya meninggalkan hal-hal yang diharamkan karena lebih mengutamakan mencari rida Allah SWT.

Ustadz Tamhid juga mengingatkan pentingnya menahan amarah serta gemar berbagi kepada sesama. Menurutnya, kemampuan mengendalikan diri dan menyisihkan sebagian harta lahir dari kesadaran bahwa seluruh rezeki merupakan titipan Allah SWT yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Mengutip hadis riwayat Muslim, ia menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan manisnya iman apabila ridha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul. Sebaliknya, ibadah dapat terasa hambar apabila hati masih dipenuhi kesombongan, prasangka buruk, dan kecintaan yang berlebihan terhadap kehidupan dunia.

Menutup pemaparannya, Ustaz Tamhid berpesan, umur manusia terus berkurang. Setiap detik jarum jam mendekatkan pada satu pintu yang pasti akan kita lewati, yaitu pintu kematian. Di alam kubur nanti, bukan gelar, harta, ataupun jabatan yang menyertai kita.

"Justru yang menemani kita dalam kegelapan dan kesunyian alam kubur hanyalah ketaatan dan ketakwaan yang pernah kita ukir selama di dunia. Maka, selagi napas masih berhembus dan selagi pintu tobat masih terbuka lebar, mari kita perbaiki diri kita," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....