Merawat Sejarah, Meneguhkan Jati Diri Bangsa
- 25 Jul 2026 12:20 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Merawat sejarah menjadi fondasi penting dalam meneguhkan jati diri bangsa Indonesia di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi. Pesan tersebut mengemuka dalam program Dialog Kita Indonesia yang disiarkan RRI Pro 4 Surabaya, Jumat 24 Juli 2026.
Dengan mengangkat tema Religious Nation State: Merawat Sejarah, Meneguhkan Jati Diri Bangsa, program ini menghadirkan narasumber Ahmad Maududi, S.H.I., M.H., Pengurus Yayasan Bumi Miring Nusantara, Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Surabaya, sekaligus Pengasuh Al Husna Islamic Boarding School Pasuruan.
Mengawali dialog, Ahmad Maududi mengutip pernyataan tokoh hak asasi manusia Martin Luther King Jr. yang menegaskan bahwa manusia tidak menciptakan sejarah, melainkan dibentuk oleh sejarah. Menurutnya, pemahaman terhadap perjalanan bangsa menjadi ikhtiar penting untuk menjaga identitas nasional sekaligus meneruskan nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa kepada generasi penerus.
| Baca juga: AI Canggih, Tata Krama Tetap Dijaga |
"We are not makers of history. We are made by history. Kita bukan pembuat sejarah, tetapi kita dibentuk oleh sejarah. Karena itu, mengenal, merawat, dan mendalami sejarah bangsa merupakan ikhtiar untuk meneguhkan identitas bangsa Indonesia," ujar Ahmad Maududi.
Ia menjelaskan, perjuangan bangsa saat ini tidak lagi identik dengan mengangkat senjata sebagaimana masa kemerdekaan. Tantangan yang dihadapi generasi sekarang adalah memerangi kebodohan, kemiskinan, intoleransi, serta berbagai persoalan sosial yang dapat menggerus persatuan bangsa. Nilai-nilai perjuangan para pendahulu, menurutnya, harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata sesuai kebutuhan zaman.
Di tengah era digital, Maududi menilai akses terhadap informasi sejarah sebenarnya semakin mudah. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet yang tinggi membuka peluang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mempelajari sejarah bangsa. Namun, ia mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh informasi belum tentu diikuti dengan pemahaman yang utuh terhadap nilai-nilai kebangsaan.
"Teknologi adalah alat yang sangat membantu, tetapi jangan sampai membuat kita berhenti belajar dari guru, para pelaku sejarah, dan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan hanya puas dengan informasi instan," tegasnya.
Maududi menambahkan bahwa sejarah tidak hanya berbicara mengenai kronologi peristiwa, melainkan juga mencakup budaya, nilai luhur, dan semangat persatuan yang diwariskan lintas generasi. Ia mencontohkan Surabaya sebagai kota yang memiliki banyak jejak perjuangan nasional, sehingga generasi muda perlu mengenal sejarah lokal sebagai bagian dari identitas kebangsaan.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti meningkatnya tantangan yang dihadapi generasi muda, mulai dari tekanan ekonomi, perkembangan teknologi, hingga persoalan kesehatan mental. Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan penguatan karakter melalui pendidikan sejarah, nilai agama, serta pembentukan komunitas yang mendorong lahirnya generasi tangguh dan berintegritas.
"Masa depan bangsa bergantung pada bagaimana anak-anak muda hari ini mencintai sejarah, merawat nilai-nilai perjuangan, dan meneruskannya sesuai cita-cita para pendiri bangsa," katanya.
Lebih lanjut, Maududi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut bertanggung jawab menjaga warisan sejarah. Upaya tersebut, menurutnya, tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan media, lembaga pendidikan, komunitas budaya, tokoh agama, hingga masyarakat luas dalam menghidupkan kembali narasi sejarah di ruang publik.
Menutup dialog, Ahmad Maududi mengingatkan bahwa momentum menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia harus menjadi sarana memperkuat nasionalisme dan rasa syukur sebagai bangsa yang lahir dari perjuangan panjang. Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya mengenang sejarah setiap bulan Agustus, tetapi menjadikannya inspirasi untuk membangun Indonesia yang lebih maju, toleran, dan berkeadaban.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....