Larangan Berbuat Dzalim di Era Modern
- 16 Jul 2026 09:43 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Dakwah Islam tidak hanya mengajarkan pentingnya memperbanyak ibadah, tetapi juga menanamkan kesadaran untuk tidak berbuat zalim kepada siapa pun. Hal itu disampaikan Penyuluh Agama Islam Kecamatan Sawahan Kementerian Agama Kota Surabaya, Ustadz Supriyanto, S.Th.I., M.Pd.I., dalam program Cahaya Pagi Pro 4 RRI Surabaya, Kamis 16 Juli 2026, dengan tema "Larangan Berbuat Dzalim."
Dalam tausiahnya, Ustadz Supriyanto menjelaskan bahwa kezaliman tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga dapat muncul melalui tindakan yang merugikan orang lain di era digital. "Hari ini kezaliman bisa berupa fitnah yang kita ketik di media sosial, gosip yang meruntuhkan martabat seseorang, atau memotong hak-hak ekonomi orang lain," ujarnya.
Ia menerangkan bahwa secara sederhana zalim berarti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Menurutnya, Islam melarang segala bentuk kezaliman karena dapat merusak kehidupan pribadi maupun tatanan sosial masyarakat.
| Baca juga: Muharram Perkuat Iman |
Ustadz Supriyanto mengutip hadis qudsi riwayat Imam Muslim yang menegaskan bahwa Allah mengharamkan perbuatan zalim. "Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah saling menzalimi," katanya.
Lebih lanjut, ia membagi kezaliman menjadi tiga bentuk utama, yakni zalim kepada Allah, zalim kepada diri sendiri, dan zalim kepada sesama manusia. Zalim kepada Allah diwujudkan dalam bentuk kesyirikan, sedangkan zalim kepada diri sendiri terjadi ketika seseorang merusak jiwa dan raganya dengan dosa serta kemaksiatan.
Sementara itu, zalim kepada sesama manusia dinilai sebagai perbuatan yang sangat berat karena menyangkut hak orang lain. "Allah tidak akan menghapus kezaliman kepada sesama hingga orang yang dizalimi memberikan maaf kepada pelakunya," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak kezaliman tidak hanya dirasakan di akhirat, tetapi sudah tampak sejak di dunia. Menurutnya, pelaku kezaliman akan kehilangan ketenangan hidup karena terus dihantui rasa bersalah, cemas, dan waswas.
Meski demikian, Ustadz Supriyanto menegaskan bahwa Allah senantiasa membuka pintu ampunan bagi setiap hamba yang ingin bertobat. "Jangan khawatir ketika melakukan kesalahan, Allah masih membuka pintu magfirah. Kembalilah kepada-Nya sebelum datang balasan atas perbuatan yang dilakukan," tuturnya.
Untuk menghindari perilaku zalim, ia mengajak umat Islam menjadikan Al-Qur'an dan sunah sebagai pedoman hidup. Selain itu, setiap orang perlu memahami batas hak dan kewajiban, menumbuhkan kepedulian sosial, serta mengutamakan kemanfaatan bagi sesama sebagaimana sabda Rasulullah bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Menutup tausiah, Ustadz Supriyanto mengajak masyarakat memanfaatkan setiap kesempatan hidup untuk menebar kebaikan dan menjauhi segala bentuk kezaliman. "Mari kita jaga diri agar menjadi pembawa kedamaian, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Semoga kita menjadi orang-orang yang selamat di dunia dan di akhirat," katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....