Transportasi Modern Era Hindia Belanda dalam Ngobras Pro1

  • 07 Jul 2026 09:36 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID,Surabaya - Program Ngobras Pro1 kembali menghadirkan dialog edukatif yang mengangkat sejarah transportasi di Indonesia. Dalam siaran yang berlangsung pada Senin, 6 Juli 2026, komunitas Begandring Soerabaia hadir sebagai narasumber dengan menghadirkan Navy Eka Pattiruhu, yang akrab disapa Navy.

Acara yang dipandu Joe Adi Yuanda berlangsung selama 60 menit dan mendapat antusiasme tinggi dari pendengar yang turut berpartisipasi melalui sesi interaktif.

Dalam dialog tersebut, Navy mengulas perkembangan transportasi modern pada era Hindia Belanda. Ia menjelaskan bahwa meskipun sering dianggap sebagai masa lalu yang kuno, pada kenyataannya Hindia Belanda telah memiliki berbagai moda transportasi yang tergolong modern pada zamannya, termasuk layanan penerbangan komersial.

"Banyak yang mengira pada masa Hindia Belanda transportasinya masih sangat sederhana. Padahal, pesawat komersial sudah singgah di Surabaya pada 1 November 1929, hanya setahun setelah rute Batavia–Semarang–Surabaya mulai dirintis pada 1 November 1928," ujar Navy dalam dialog tersebut.

Ia menjelaskan, pada masa awal operasional penerbangan, bandara di kawasan Darmo yang kini menjadi area lapangan golf belum sepenuhnya siap digunakan. Karena itu, penumpang yang menuju Surabaya harus transit di Semarang dan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api.

Pesawat yang digunakan merupakan Fokker berbaling-baling berkapasitas enam hingga delapan penumpang dengan waktu tempuh sekitar dua hingga tiga setengah jam serta beroperasi tiga kali dalam sepekan.

Menurut Navy, perkembangan bandar udara di Surabaya terus mengalami perubahan. "Bandara pertama berada di kawasan Darmo, kemudian dipindahkan ke Morokrembangan, dan pada akhirnya berpindah ke Juanda pada era 1960-an. Awalnya penerbangan lebih difokuskan untuk pengiriman pos dan barang, bukan sebagai transportasi massal bagi masyarakat," jelasnya.

Lebih lanjut, Navy mengungkapkan bahwa jaringan penerbangan terus berkembang hingga melayani rute Surabaya–Bali pada 1932, serta Surabaya–Makassar meski tidak bertahan lama karena minimnya penumpang. Selain itu, penerbangan juga melayani Tarakan dan sejumlah kota di Kalimantan untuk mendukung aktivitas perusahaan-perusahaan minyak yang beroperasi saat itu.

Dalam kesempatan tersebut, Navy juga memaparkan persaingan antarmoda transportasi pada masa Hindia Belanda. Kapal laut menawarkan kenyamanan dan layanan konsumsi yang lebih baik, sementara kereta api menjadi pilihan favorit karena tarifnya lebih terjangkau, memiliki berbagai kelas layanan, serta mampu menjangkau banyak daerah.

Ia menambahkan bahwa pembangunan transportasi pada masa itu lebih diarahkan untuk kepentingan ekonomi dan administrasi pemerintah kolonial, sedangkan moda transportasi mewah seperti pesawat hanya dinikmati kalangan pejabat, pengusaha, dan kaum ningrat.

Menutup dialog, Navy mengajak generasi muda untuk tidak melupakan sejarah transportasi Indonesia sekaligus menjadikannya sebagai inspirasi dalam menciptakan inovasi baru. "Mari kita lestarikan peninggalan sejarah transportasi yang masih ada.

Semangat inovasi para pendahulu perlu kita lanjutkan agar lahir sistem transportasi yang semakin baik, nyaman, aman, dan bermanfaat bagi masyarakat di masa depan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....