Kampanye Sadar Bencana Prioritaskan Edukasi bagi Perempuan, Anak, Lansia, dan Penya
- 14 Jul 2026 19:34 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Letaknya yang berada di kawasan cincin api (Ring of Fire), ditambah potensi banjir, longsor, tsunami, hingga kebakaran hutan, menjadikan edukasi kebencanaan sebagai kebutuhan yang harus dimiliki seluruh masyarakat. Namun, di balik tingginya ancaman tersebut, masih banyak warga yang belum memiliki kesadaran terhadap pentingnya mitigasi bencana.
Kondisi inilah yang mendorong dilaksanakannya kampanye sadar bencana dengan memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, yakni perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Mereka dinilai membutuhkan edukasi yang lebih intensif karena memiliki keterbatasan dan kebutuhan khusus saat menghadapi situasi darurat.
Edukator Edusantana, Eka Febryana Megaratry, S.Pd., mengatakan kelompok rentan harus menjadi prioritas dalam edukasi kebencanaan agar memiliki kemampuan dasar untuk melindungi diri ketika bencana terjadi.
"Perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas merupakan kelompok yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi ketika terjadi bencana. Karena itu mereka perlu dibekali pengetahuan mengenai mitigasi, cara menyelamatkan diri, mengenali risiko di sekitar, hingga langkah-langkah yang harus dilakukan ketika proses evakuasi berlangsung," ucapnya saat berbincang dengan RRI Surabaya dalam program Kentongan, Selasa, 14 Juli 2026.
Menurut Eka, edukasi tersebut sangat penting agar ketika terjadi bencana maupun saat proses evakuasi membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan, masyarakat tidak panik dan mengetahui apa yang harus dilakukan serta tindakan yang harus dihindari. Dengan begitu, risiko munculnya korban jiwa maupun dampak yang lebih besar dapat diminimalkan.
Selain kelompok rentan, edukasi kebencanaan juga harus ditanamkan sejak usia dini. Anak-anak dinilai lebih mudah memahami materi apabila disampaikan melalui metode yang menyenangkan, seperti permainan edukatif, cerita, maupun simulasi tanggap bencana.
"Anak-anak perlu dikenalkan sejak dini tentang bagaimana merespons bencana dengan benar. Melalui simulasi, mereka dapat belajar mengenali tanda bahaya, mengetahui jalur evakuasi, hingga memahami cara meminta pertolongan tanpa merasa takut," kata Eka.
Sementara itu, tenaga kesehatan Medisantana, Evi Zuroidah, S.Kep., Ns., menekankan bahwa kesiapsiagaan kelompok rentan juga harus dibarengi dengan pemahaman mengenai kesehatan selama masa tanggap darurat.
"Ketika proses evakuasi berlangsung lebih lama, mereka harus memahami bagaimana menjaga kondisi tubuh, tetap tenang, menggunakan perlengkapan darurat dengan benar, serta mengikuti arahan petugas agar proses penyelamatan berjalan aman," ujar Evi.
Upaya membangun budaya sadar bencana tidak hanya dilakukan melalui penyuluhan di perkotaan. Melalui jaringan relawan Santana, edukasi tanggap bencana kini telah menjangkau 117 titik di berbagai wilayah Indonesia.
Para relawan turun langsung ke masyarakat untuk memberikan pelatihan mitigasi, simulasi evakuasi, hingga edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari upaya pencegahan bencana.
Menurut Eka, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana justru memiliki tingkat kesadaran yang rendah terhadap risiko yang mengancam mereka setiap hari.
"Saat saya bertugas di Kabupaten OKU Selatan, misalnya, masih banyak masyarakat yang belum benar-benar memahami ancaman bencana di wilayahnya. Padahal daerah tersebut memiliki potensi bencana yang cukup tinggi. Kesadaran terhadap mitigasi maupun kesiapsiagaan masih perlu terus ditingkatkan," ucapnya.
Rendahnya kesadaran tersebut juga terlihat dari perilaku masyarakat terhadap lingkungan. Masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan, termasuk ke aliran sungai. Akibatnya, sungai menjadi tercemar dan aliran air tersumbat, sehingga meningkatkan risiko banjir ketika curah hujan tinggi.
Padahal, menurut Eka, menjaga kebersihan lingkungan merupakan bentuk mitigasi bencana paling sederhana yang dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat. Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan, menjaga saluran air tetap bersih, hingga merawat lingkungan sekitar menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar dalam mengurangi risiko bencana.
Melihat kondisi tersebut, Santana terus memperluas jangkauan edukasi agar semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya budaya sadar bencana. Sebab, sebagai negara yang kerap dijuluki laboratorium kebencanaan dunia karena memiliki beragam jenis ancaman bencana alam, Indonesia membutuhkan masyarakat yang tidak hanya tanggap saat bencana terjadi, tetapi juga mampu melakukan upaya pencegahan sejak dini.
.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....