Mengenal Bakteri Salmonella dan Dampaknya bagi Kesehatan
- 07 Jul 2026 19:14 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Bakteri Salmonella masih menjadi salah satu penyebab utama penyakit bawaan makanan (foodborne disease) di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bakteri ini sebagai satu dari empat penyebab utama penyakit diare secara global. Infeksi yang ditimbulkan dikenal sebagai salmonellosis, yaitu gangguan saluran pencernaan yang umumnya ditularkan melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi.
Bakteri Salmonella banyak ditemukan pada produk pangan asal hewan, seperti daging ayam, daging sapi, telur, susu yang tidak dipasteurisasi, hingga makanan laut yang tidak dimasak sempurna. Penularan juga dapat terjadi melalui buah dan sayuran yang terkontaminasi, air yang tercemar, maupun kontak dengan hewan pembawa bakteri, seperti unggas dan reptil. WHO menjelaskan bahwa bakteri ini mampu bertahan hidup dalam berbagai kondisi lingkungan sehingga pengolahan dan penyimpanan makanan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko penularan.
Gejala infeksi biasanya muncul dalam waktu 6 hingga 72 jam setelah seseorang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Keluhan yang paling sering dialami meliputi diare, demam, kram perut, mual, muntah, sakit kepala, dan tubuh terasa lemas. Sebagian besar penderita akan pulih dalam waktu beberapa hari dengan istirahat dan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh.
Namun, pada kelompok rentan seperti bayi, lansia, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, infeksi dapat berkembang menjadi lebih serius hingga menyebar ke aliran darah atau organ lain.
Menurut pedoman terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebagian besar kasus salmonellosis tidak memerlukan antibiotik. Penanganan utama adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare dan muntah. Antibiotik hanya dianjurkan pada pasien dengan infeksi berat atau mereka yang berisiko mengalami penyakit invasif, karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi bakteri.
Upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan penyebaran Salmonella. Masyarakat dianjurkan selalu mencuci tangan sebelum mengolah makanan, memisahkan bahan pangan mentah dari makanan siap santap, memasak daging dan telur hingga matang sempurna, mencuci buah dan sayuran dengan air mengalir, serta menyimpan makanan pada suhu yang sesuai untuk menghambat pertumbuhan bakteri.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases milik CDC juga menunjukkan bahwa non-typhoidal Salmonella masih menjadi penyebab utama infeksi aliran darah di berbagai negara dan memberikan beban kesehatan yang cukup besar, terutama pada negara berpendapatan rendah dan menengah. Temuan tersebut menegaskan pentingnya pengawasan keamanan pangan, sanitasi yang baik, serta edukasi masyarakat mengenai pengolahan makanan yang aman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....