AI Canggih, Tata Krama Tetap Dijaga
- 06 Jul 2026 19:45 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dinilai membawa banyak kemudahan dalam kehidupan manusia. Namun, perkembangan teknologi tersebut harus diimbangi dengan pelestarian tata krama dan budaya luhur agar jati diri bangsa tidak luntur.
Hal itu disampaikan anggota Dewan Kebudayaan Surabaya, Dr. Jarmani, dalam Dialog Apresiasi Budaya bertema "AI Pancen Canggih Ananging Tata Krama Kudu Tetep Dijaga" yang disiarkan RRI, Minggu 5 Juli 2026.
Menurutnya, teknologi merupakan sarana yang diciptakan untuk membantu manusia, bukan menggantikan nilai-nilai budaya.
"Teknologi itu adalah media untuk mempermudah hidup manusia. Tetapi etika saat kita berteknologi harus tetap dijaga. Jangan sampai budaya dan karakter kita hilang gara-gara teknologi," ujar Dr. Jarmani.
Ia menjelaskan, fenomena penggunaan AI yang semakin masif memunculkan kecenderungan budaya instan. Akibatnya, generasi muda mulai kehilangan semangat berproses, kurang menghargai kerja keras, hingga menurunnya kemampuan berpikir kritis karena terlalu bergantung pada teknologi.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada memudarnya nilai-nilai budaya adiluhung seperti andhap asor, tepa selira, kejujuran, dan rasa hormat kepada orang tua maupun sesama. Padahal, nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.
"Budaya adiluhung harus menjadi filter teknologi. Jangan sampai kita kehilangan jati diri hanya karena semua ingin serba instan," tegasnya.
Sementara itu, Pecinta Budaya Nusantara, Ries Handono, menilai derasnya arus informasi di media sosial juga memengaruhi cara generasi muda menyerap informasi. Konten-konten singkat dinilai membuat sebagian anak muda terbiasa menginginkan segala sesuatu secara cepat tanpa melalui proses pembelajaran yang utuh.
Ries menambahkan, pemanfaatan AI seharusnya diarahkan untuk memperkuat pelestarian budaya, bukan justru menjauhkan masyarakat dari akar tradisinya. Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media kreatif untuk mengenalkan budaya kepada generasi muda
Dr. Jarmani juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi anak menggunakan teknologi. Orang tua diharapkan tidak hanya memberikan gawai, tetapi juga aktif mengawasi, memberi teladan, serta membangun komunikasi agar anak tetap memiliki karakter yang kuat.
"Penanaman penggunaan gadget harus sejak dini. Orang tua harus mengontrol, sekolah juga harus menguatkan pendidikan karakter sehingga teknologi digunakan secara bijak," katanya.
Selain keluarga, sekolah juga dinilai memiliki peran strategis melalui penguatan pendidikan karakter dan seni budaya. Integrasi nilai-nilai budaya dalam pembelajaran diyakini mampu membentuk generasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan identitas budayanya.
Melalui dialog tersebut, para narasumber sepakat bahwa AI bukanlah musuh budaya. Sebaliknya, kecanggihan teknologi dapat menjadi sarana pelestarian budaya apabila digunakan secara bijaksana, sehingga kemajuan digital dapat berjalan beriringan dengan keluhuran tata krama bangsa Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....