Jangan Sekadar Membaca, Jangan Sampai Dibaca
- 04 Jul 2026 17:51 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Kemudahan akses informasi di era digital membuat masyarakat dibanjiri berbagai konten setiap hari. Namun, kondisi tersebut harus diimbangi dengan kemampuan literasi agar masyarakat tidak hanya menjadi pembaca informasi, tetapi juga tidak "dibaca" oleh algoritma media digital.
Hal itu disampaikan Dosen Ilmu Perpustakaan FISIP Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Yanaustrid Shintawati, S.IPI., M.Si., dalam siaran Dialog Sosial Pro 4 RRI Surabaya, Jumat 3 Juli 2026, bertema "Literasi di Tengah Banjir Informasi: Membaca atau Dibaca?". Menurutnya, masyarakat perlu memahami informasi secara kritis sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Yanaustrid menjelaskan, kebiasaan sekadar menggulir atau scroll media sosial membuat pengguna mudah terjebak pada pola konsumsi informasi yang dibentuk oleh algoritma. "Bukan lagi kita yang membaca, tetapi justru sistem yang membaca kebiasaan kita," ujarnya.
Ia mencontohkan, seseorang yang sering mencari konten tertentu akan terus disuguhi tema serupa oleh platform digital. Karena itu, pengguna perlu mengendalikan kebiasaan bermedia agar tetap fokus mencari informasi yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar mengikuti apa yang ditampilkan algoritma.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan krisis literasi. Literasi tidak hanya berarti banyak membaca, tetapi juga mampu memahami isi informasi, memeriksa sumbernya, serta memastikan manfaatnya sebelum dibagikan kepada orang lain.
Yanaustrid menegaskan, perpustakaan tetap memiliki peran penting sebagai pusat validasi informasi di tengah derasnya arus digital. Koleksi buku dan referensi ilmiah menjadi rujukan untuk memastikan informasi yang beredar di internet memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap hoaks dan disinformasi yang banyak beredar di media sosial. Menurutnya, informasi dengan judul menarik belum tentu benar sehingga perlu diverifikasi melalui sumber resmi maupun pendapat para ahli.
Selain memeriksa sumber, masyarakat juga perlu membiasakan diri membandingkan informasi dari beberapa referensi terpercaya. Kemampuan berpikir kritis dinilai jauh lebih penting dibandingkan sekadar kemampuan mencari informasi di internet.
Yanaustrid menambahkan, keberadaan pustakawan juga menjadi nilai lebih yang dimiliki perpustakaan. Selain menyediakan koleksi yang kredibel, pustakawan dapat membantu masyarakat menemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhan secara efektif dan efisien.
Menutup dialog, Yanaustrid mengajak masyarakat untuk menjadi pengguna media digital yang cerdas dan bertanggung jawab. "Jangan hanya sekadar scroll, tetapi biasakan memvalidasi informasi sebelum mempercayai dan membagikannya. Jadilah masyarakat yang literat," Ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....