Lampu Tradisional, Penerang sebelum Era Listrik

  • 01 Jul 2026 09:25 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Sebelum listrik menjangkau berbagai daerah di Indonesia, masyarakat mengandalkan lampu tradisional untuk menerangi aktivitas pada malam hari. Beragam jenis lampu, mulai dari pelita atau lampu colok, lampu minyak tanah, hingga petromaks, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus mencerminkan perkembangan teknologi penerangan pada masanya.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV Kementerian Kebudayaan dalam artikel Tradisi Tujuh Likur Mulai Terasa di Lingga menyebut pelita atau lampu colok merupakan salah satu alat penerangan yang paling dikenal masyarakat tempo dulu. Selain digunakan untuk menerangi rumah, pelita juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat Melayu, khususnya dalam perayaan Tujuh Likur yang masih dilestarikan di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

"Pelita (lampu colok) adalah salah satu alat penerangan yang dipakai nenek moyang dahulu pada saat listrik belum dikenal," tulis Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV Kementerian Kebudayaan dalam artikel Tradisi Tujuh Likur Mulai Terasa di Lingga.

Tradisi menyalakan pelita menunjukkan bahwa lampu tradisional tidak hanya berfungsi sebagai penerang, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual. Masyarakat memasang pelita di halaman rumah, sepanjang jalan, hingga gerbang kampung sebagai bentuk suka cita menyambut malam-malam terakhir Ramadan.

"Sejak zaman dahulu, masyarakat Melayu, khususnya yang berada di Lingga dan tempat lainnya, selalu menyambut bulan suci Ramadan dengan berbagai kegiatan, salah satunya adalah dengan memeriahkan suasana di malam hari dengan menyalakan berbagai penerangan tradisional seperti lampu cangkok, colok, teplok, maupun pelita di sekitar rumah, jalan, dan lorong-lorong," tulis Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IV Kementerian Kebudayaan dalam artikel Tradisi Lampu Cangkok dan 7 Likur.

Selain pelita, masyarakat juga mengenal lampu minyak tanah yang kemudian berkembang menjadi petromaks. Lampu bertekanan berbahan bakar minyak tanah tersebut menghasilkan cahaya yang lebih terang sehingga banyak dimanfaatkan untuk kegiatan di luar rumah, pasar malam, hingga membantu aktivitas masyarakat sebelum listrik tersedia secara luas.

Meski kini telah tergantikan oleh lampu listrik, keberadaan pelita, lampu minyak, dan petromaks masih dapat dijumpai dalam berbagai tradisi budaya, museum, hingga koleksi benda bersejarah. Keberadaannya menjadi pengingat perjalanan panjang teknologi penerangan sekaligus warisan budaya yang pernah menerangi kehidupan masyarakat Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....