Kucing Bakau Jadi Penanda Ekosistem Kebun Raya Mangrove Surabaya Tetap Terjaga

  • 27 Jun 2026 19:53 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya menjadi habitat berbagai satwa liar, mulai dari burung, kupu-kupu, kucing bakau, hingga kepiting pemanjat pohon. Keberadaan satwa tersebut menjadi indikator ekosistem mangrove di kawasan itu masih terjaga.

Kepala UPT Kebun Raya Mangrove Surabaya, Dian Prasetyaningtyas, mengatakan KRM Surabaya memiliki 74 spesies mangrove. Jumlah tersebut setara hampir 30 persen dari sekitar 245 spesies mangrove yang ada di Indonesia.

"Kurang lebih hampir 30 persen, dan relatif memang untuk jenis spesiesnya yang paling banyak di antara area mangrove yang lain," ujar Dian, Sabtu, 27 Juni 2026.

Dian menjelaskan KRM Surabaya merupakan satu-satunya kebun raya bertema mangrove di Indonesia. Berbeda dengan kawasan mangrove lain, kawasan ini telah berfungsi sebagai kebun raya sekaligus pusat konservasi.

"Kalau yang lain-lain di Indonesia kita ada 48 kebun raya, tetapi sifatnya tidak tematik. Untuk yang mangrove itu Surabaya satu-satunya," katanya.

Menurut Dian, bergabungnya UPT Kebun Raya Mangrove dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Surabaya memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat penelitian. Targetnya menjadikan KRM Surabaya sebagai laboratorium mangrove bertaraf dunia.

"Targetnya adalah bagaimana kita menjadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai laboratorium mangrove yang ada di dunia. Harapannya, paling tidak 245 spesies mangrove yang ada di Indonesia bisa kita miliki di Kebun Raya Mangrove," ujarnya.

Selain koleksi mangrove, kawasan tersebut menjadi habitat sekitar 35 jenis burung yang menetap maupun singgah. Beragam jenis kupu-kupu juga ditemukan di kawasan konservasi tersebut.

Dian mengatakan hasil penelitian dosen Universitas Negeri Surabaya juga menemukan keberadaan kucing bakau di kawasan itu. Satwa liar tersebut sulit dikembangbiakkan sehingga keberadaannya menjadi indikator penting kualitas ekosistem.

"Tidak banyak tempat ditemukan ada kucing bakau. Itu menunjukkan kalau ekosistemnya terjaga dengan baik dengan adanya keberadaan kucing bakau itu sendiri," sebutnya.

Selain itu, kawasan mangrove juga menjadi habitat kepiting pemanjat pohon dan biawak. Sementara buaya hanya pernah ditemukan di kawasan Avour Wonorejo, bukan di area Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar.

Saat ini UPT Kebun Raya Mangrove mengelola kawasan Gunung Anyar-Medokan Sawah dan Wonorejo dengan total luas sekitar 34 hektare. Meski vegetasi mangrove mampu mengurangi abrasi, sampah kiriman dari hulu sungai masih menjadi tantangan utama menjaga kelestarian kawasan.

"Surabaya berada di wilayah hilir, sehingga pasti mendapat kiriman sampah dari berbagai daerah. Apalagi kalau sampah sampai menyangkut di akar mangrove, itu bisa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mangrove itu sendiri," ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....