YPTA Surabaya Perkuat Kolaborasi Lewat Team Building Berkelanjutan

  • 23 Jun 2026 16:17 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya menggelar Outbound Sustainable Improvement 2026 di El Hotel Kartika Wijaya, Batu, Jawa Timur, pada 19-21 Juni 2026. Kegiatan bertema “Patriot Merah Putih dalam Aksi, Kolaborasi Tanpa Henti” itu diikuti jajaran struktural administrasi dan akademik, termasuk para ketua laboratorium.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Pengawas dan Pengurus Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya, jajaran Rektorat Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, pengurus Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, serta mitra yayasan.

Pengawas Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya, Bantot Sutriono, menegaskan kualitas sumber daya manusia menjadi modal penting dalam mewujudkan target World Class University. “Kekuatan sumber daya itu bisa diarahkan untuk meraih World Class University, yang paling ditekankan yaitu pada kualitas akademik,” ujar Bantot dalam rilis yang diterima RRI, Selasa, 23 Juni 2026.

Direktur Direktorat Sumber Daya Umum dan Manusia Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya sekaligus Ketua Pelaksana, Eddy Wahyudi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin dua tahunan. Menurut Eddy, kegiatan itu bertujuan mempererat persatuan sekaligus menyegarkan kembali semangat kerja seluruh peserta setelah menjalani aktivitas rutin yang padat.

“Kegiatan ini untuk mempererat persatuan dan juga me-refresh, selama ini kita sudah kerja keras. Harapannya dapat membangkitkan kembali suatu semangat kerja di lingkungan YPTA Surabaya,” katanya.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi budaya kerja, pengelolaan konflik, kolaborasi, dan wawasan kebangsaan. Sesi refleksi kebangsaan dipandu Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya, J. Subekti. Dalam paparannya, Subekti mengulas sejarah Indonesia dan membedah makna nasionalisme serta patriotisme. Ia menegaskan patriotisme menuntut pengorbanan lebih dari sekadar rasa cinta terhadap bangsa dan negara.

“Nasionalis itu memang mencintai bangsa dan mencintai negara, tetapi belum tentu siap untuk berkorban, siap untuk mempertaruhkan harta dan nyawa. Hanya mereka yang siap berkorban untuk membela kemerdekaan, kedaulatan, dan Ibu Pertiwi, maka dialah yang disebut patriot,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia, Thomas Suyatno, turut menyoroti pentingnya kaderisasi dalam menjaga keberlanjutan institusi pendidikan tinggi swasta.

“Pada masa itu, ketika kejayaan Sriwijaya runtuh, salah satu penyebabnya adalah tidak tersedianya kader yang memiliki tiga kriteria utama, yaitu integritas, komitmen, dan loyalitas kepada bangsa dan negara,” ungkap Thomas.

Memasuki hari kedua, peserta mengikuti fun offroad yang menguji kerja sama, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Mereka menjalani berbagai tantangan, mulai dari Taman Bunga Quest hingga memetik apel terbesar di kebun apel sebelum melanjutkan kegiatan di Coban Talun.

Pada malam hari, peserta mengikuti Gala Dinner bertema Pesona Indonesia Budaya Nusantara. Sebanyak 12 kelompok menampilkan drama, dialog, dan tarian daerah sebagai simbol keberagaman budaya Indonesia. Hari terakhir diisi dengan outbound team building yang menekankan kolaborasi, komunikasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah lintas unit. Puncaknya, peserta ditantang menjaga lilin tetap menyala di tengah serangan bola air hingga berhasil membentangkan banner bertuliskan “YPTA Surabaya Patriot Merah Putih” sebagai simbol persatuan dan kolaborasi.

Salah satu peserta, Izzah Aula Wardah, mengaku menikmati seluruh rangkaian kegiatan. “Saya bukan orang dengan social energy yang tinggi. Namun, dari kegiatan ini saya justru menikmati prosesnya dan bisa mengenal banyak orang,” ujarnya.

Wakil Kepala Sekolah Sekolah Menengah Pertama 17 Agustus 1945 Surabaya, Aditya Yoastara, menilai kegiatan tersebut menjadi momentum menyatukan visi Sekolah Menengah Pertama 17 Agustus 1945 Surabaya, Sekolah Menengah Atas 17 Agustus 1945 Surabaya, dan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam satu kesatuan Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya.

“Selama tiga hari ini menjadi momentum luar biasa untuk menyatukan visi SMPTAG, SMATAG, dan Untag Surabaya dalam satu kesatuan YPTA. Saya belajar meruntuhkan ego sektoral demi membangun sinergi antara tim akademik dan administrasi,” tutup Aditya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....