Anak Berkebutuhan Khusus Rentan Jadi Korban Perundungan

  • 14 Jun 2026 10:10 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) hingga kini masih menempati posisi yang sangat rentan terhadap tindakan perundungan (bullying) di masyarakat. Stigma negatif dan kurangnya pemahaman publik seringkali membuat mereka menjadi sasaran empuk kekerasan verbal maupun non-verbal.

Fenomena memprihatinkan ini dikupas tuntas dalam siaran Dialog Komunitas Pro 4 RRI Surabaya edisi Minggu, 14 Juni 2026, yang menghadirkan dua narasumber berkompeten: Mira Dian H, (Komisi Perlindungan Anak/KPA Surabaya & Terapis ABK) dan Founder Yayasan Aisyah Learning Centre. Bersama Anita Taurusia, seorang ibu yang sukses mengantarkan anak tuna netranya menjadi sosok berprestasi.

Sebagai orang tua yang mendampingi anak tuna netra berprestasi, Anita Taurusia membagikan kisah inspiratifnya dalam membentengi sang buah hati dari dampak buruk perundungan. Menurutnya, fondasi utama keterbukaan harus dibangun sejak dini di dalam rumah.

"Kuncinya adalah komunikasi dan penerimaan penuh dari keluarga. Ketika anak merasa dicintai dan dihargai di rumah, mereka akan tumbuh dengan mental yang kuat. Jika ada perlakuan tidak menyenangkan di luar, mereka tidak takut untuk bercerita kepada ibunya," ujar Anita hangat.

Anita membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang bagi anak untuk mengukir prestasi, asalkan orang tua konsisten memberikan ruang gerak, kepercayaan, dan dukungan psikologis yang tepat. Dari kacamata profesional, Mira Dian H selaku praktisi psikologi sekaligus perwakilan KPA Surabaya menegaskan bahwa perundungan pada ABK kerap terjadi karena adanya ketimpangan relasi kuasa dan minimnya edukasi inklusi di lingkungan sekitar anak.

"ABK seringkali kesulitan untuk mengekspresikan diri atau membela hak-haknya saat diintimidasi. Di sinilah peran penting kita sebagai orang dewasa. Kita harus mengedukasi lingkungan—baik sekolah maupun lingkungan rumah—untuk menciptakan ekosistem yang aman dan inklusif," ujar Mira Dian.

Sebagai seorang terapis ABK, Mira juga memberikan beberapa rekomendasi penanganan jika anak terindikasi mengalami perundungan: Kenali Perubahan Perilaku: Waspadai jika anak tiba-tiba menjadi murung, cemas, atau menolak pergi ke sekolah/tempat beraktivitas.

Validasi Emosi Anak: Dengarkan cerita mereka tanpa menghakimi, berikan rasa aman, dan yakinkan bahwa itu bukan kesalahan mereka.

Tindakan Tegas Intervensi: Pihak keluarga harus segera berkomunikasi dengan institusi terkait (seperti sekolah) atau lembaga perlindungan anak untuk menghentikan siklus perundungan secara legal dan psikologis.

“Pernah saya melihat anak ADHD di kata-katain orang di ruang publik, saat itu langsung saya tegur saat itu saja. Karena saya paham betul konsisi anak-anak ini. Jangankan lingkup luar, dilingkungan keluarga saja masih ada yang melakukan perundungan. Dulu masih banyak yang malu memiliki anak disabilitas. Untungnya saat sudah lebih mendapatkan hak haknya sebagai anak. Adanya pola pikir dan pola asuh yang lebih bisa menerima adak disabilitas," ujar Mira.

Melalui momentum Dialog Komunitas ini, KPA Surabaya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap Anak Berkebutuhan Khusus. ABK tidak butuh dikasihani, melainkan butuh diberikan kesempatan dan hak yang setara untuk berkembang tanpa bayang-bayang intimidasi.

Sinergi kuat antara ketangguhan keluarga seperti yang diterapkan Anita Taurusia, dikombinasikan dengan pengawasan regulasi dari KPA Surabaya, diharapkan mampu menekan angka kasus perundungan secara signifikan, demi mewujudkan Kota Surabaya yang benar-benar ramah dan aman bagi seluruh anak tanpa terkecuali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....