Menenun Sabar di tengah Era Serba Instan

  • 13 Jun 2026 09:26 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Kesabaran bukan sekadar menunggu datangnya pertolongan atau terkabulnya harapan. Di tengah kehidupan yang serba cepat, sabar merupakan proses yang harus dibangun dengan ketekunan, ketelitian, dan perjuangan yang berkelanjutan. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Bidang Dakwah PDNA Bojonegoro, Ustazah Fira Zulia Sukriyanti, dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Surabaya, Sabtu 13 Juni 2026, yang mengangkat tema “Menenun Sabar dalam Arus yang Tergesa.”

Ustazah Fira menjelaskan, istilah "menenun" dipilih karena menggambarkan proses panjang yang membutuhkan kesungguhan. Sebagaimana menenun kain yang dilakukan secara perlahan hingga menghasilkan karya yang indah, kesabaran juga dibentuk melalui proses yang tidak instan. "Sabar itu bukan sekadar menunggu. Sabar seperti menenun, dilakukan perlahan, teliti, dan membutuhkan waktu yang lama hingga menghasilkan sesuatu yang baik. Dalam kehidupan pun demikian, setiap proses membutuhkan perjuangan yang tidak mudah," ujarnya.

Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama ibu muda yang harus membagi perhatian antara pekerjaan, urusan rumah tangga, pengasuhan anak, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Tekanan itu kerap bertambah ketika seseorang membandingkan kehidupannya dengan apa yang dilihat di media sosial.

Ia menilai, derasnya arus informasi telah membentuk budaya serba instan. Tanpa disadari, banyak orang menginginkan segala sesuatu berjalan cepat, mulai dari karier, pendidikan, hingga pencapaian hidup. "Kita hidup di era serba instan. Informasi berputar begitu cepat sehingga tanpa sadar kita memaksa segala sesuatu harus segera berhasil. Padahal tidak semua hal bisa dipercepat. Ada proses yang harus dijalani dengan sabar," katanya.

Dalam kajiannya, Ustaza Fira menegaskan bahwa sabar bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang membantu seseorang tetap teguh menghadapi berbagai persoalan. Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 45 yang berbunyi, "Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."

Ayat tersebut, menurut Ustazah Fira, menunjukkan bahwa umat Islam semestinya menjadikan salat sebagai jalan mendekat kepada Allah SWT sekaligus sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. "Sabar bukan pasrah tanpa usaha. Sabar adalah sikap aktif. Kita tetap berikhtiar semaksimal mungkin, tetapi hati tetap tenang dan tidak mudah putus asa. Karena itu Al-Qur'an mengaitkan sabar dengan salat sebagai penolong dalam menghadapi masalah," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kesabaran dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, salah satunya sabar dalam ketaatan. Misalnya, menjaga konsistensi menjalankan ibadah, bangun malam untuk tahajud, maupun mendidik anak dengan penuh kesungguhan meskipun dalam kondisi lelah.

Selain itu, umat Islam juga dituntut untuk bersabar dalam menjauhi kemaksiatan dan berbagai godaan yang dapat menjauhkan diri dari nilai-nilai agama.

Fira juga mengingatkan bahaya sikap tergesa-gesa yang semakin sering muncul di tengah kehidupan modern. Ia mengutip hadis riwayat Tirmidzi yang menyebutkan, "Sikap tenang berasal dari Allah dan tergesa-gesa berasal dari setan."

Menurutnya, akar dari sikap tergesa-gesa sering kali berasal dari rasa takut dan kecemasan, baik takut tertinggal, gagal, maupun tidak mampu memenuhi ekspektasi orang lain.

"Ketika semua ingin serba cepat, kita sering kehilangan ketenangan dan keberkahan waktu. Padahal Allah memberikan waktu yang cukup untuk setiap proses yang memang harus dijalani," katanya.

Untuk membantu menumbuhkan kesabaran, Ustazah Fira membagikan tiga langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, membangun afirmasi positif sejak pagi dan memulai hari dengan kegiatan yang bermanfaat, bukan langsung terpaku pada telepon genggam atau media sosial.

Kedua, menerapkan the power of pause, yakni meluangkan waktu sejenak untuk berhenti, menarik napas, dan beristighfar sebelum bereaksi terhadap suatu keadaan. Ketiga, belajar menikmati setiap proses kehidupan tanpa terus-menerus terpaku pada hasil akhir.

"Sabar tidak datang terlalu cepat dan tidak datang terlambat. Sabar hadir pada waktu yang tepat sesuai ketentuan Allah. Tugas kita adalah menikmati proses, terus berusaha, dan percaya bahwa setiap kebaikan memiliki waktunya sendiri," ucapnya.

Hal ini, lanjut Ustazah Fira, menjadi pengingat bahwa di tengah budaya serba cepat, kesabaran tetap menjadi bekal penting untuk menjaga ketenangan, memperkuat keimanan, dan menjalani kehidupan secara lebih bijaksana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....