Moderasi Beragama Jaga Kebersamaan dalam Keberagaman
- 21 Jul 2026 13:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Moderasi beragama bukanlah upaya menyatukan semua agama menjadi satu, melainkan menjaga keharmonisan dalam keberagaman. Prinsip tersebut menjadi pokok bahasan dalam Dialog Moderasi Beragama yang disiarkan RRI Pro 4 Surabaya, Senin 20 Juli 2026, mengangkat tema "Moderasi Beragama dalam Perspektif Konghucu: Kebersamaan dalam Keberagaman."
Narasumber dialog, Xs. Liem Tiong Yang, Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surabaya Bidang Pemeliharaan Kerukunan, menjelaskan bahwa ajaran Khonghucu menempatkan keharmonisan sebagai landasan utama kehidupan manusia. Menurutnya, manusia harus hidup selaras dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
"Moderasi beragama bukan menyatukan agama-agama menjadi satu, tetapi menjaga keharmonisan dalam keberagaman. Dalam ajaran Konghucu, manusia harus hidup selaras antara langit, bumi, dan manusia," ujar Liem Tiong Yang.
Ia menjelaskan, moderasi beragama dalam perspektif Konghucu bertumpu pada tiga nilai utama. Ketiga nilai tersebut adalah Zhong Yong atau jalan tengah yang seimbang, empati atau toleransi, serta li, yaitu tata krama dan penghormatan terhadap aturan serta keyakinan orang lain.
Menurutnya, konsep jalan tengah mengajarkan setiap orang agar mampu mengendalikan emosi dan tidak bersikap ekstrem. "Marah boleh, tetapi ingat akibatnya. Gembira, sedih, dan marah tetap harus berada dalam batas tengah agar tercipta harmoni," katanya.
Liem menambahkan bahwa empati menjadi kunci dalam membangun kehidupan bersama. Ia mengutip ajaran Konghucu, "Kalau kita ingin dihormati orang lain, maka hormatilah orang lain. Kalau kita tidak ingin diremehkan, jangan meremehkan orang lain."
Ia menilai praktik moderasi beragama telah lama hidup dalam keseharian masyarakat Surabaya. Semangat gotong royong, saling membantu tanpa memandang agama, hingga kerja bakti menjelang peringatan Hari Kemerdekaan menjadi contoh nyata kebersamaan yang telah mengakar di tengah masyarakat.
Sebagai contoh, Liem menyoroti kawasan Royal Residence Surabaya yang memiliki sejumlah rumah ibadah berbagai agama berdiri berdampingan. Menurutnya, setiap komunitas saling menghormati waktu ibadah maupun kegiatan keagamaan sehingga kerukunan tetap terjaga.
Selain itu, ia juga menyebut Sanggar Agung Kenjeran sebagai contoh ruang yang terbuka bagi masyarakat lintas agama dan budaya. Pengunjung dipersilakan datang dengan tetap menghormati tata tertib tempat ibadah sebagai bentuk penghargaan terhadap keyakinan orang lain.
Menutup dialog, Liem mengingatkan bahwa tantangan terbesar moderasi beragama di era digital adalah derasnya penyebaran ujaran kebencian dan informasi yang tidak jelas kebenarannya. "Semua agama mengajarkan cinta kasih, bukan kebencian. Karena itu, mari berlomba-lomba berbuat baik, saling menghormati, saling toleransi, dan membangun kedamaian dimulai dari diri sendiri. Kerukunan bukan hanya tugas FKUB, tetapi tanggung jawab seluruh warga negara," tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....