Pekerja Anak Masih Jadi Sorotan Global
- 12 Jun 2026 18:05 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak yang diperingati setiap 12 Juni kembali menjadi pengingat bahwa pekerja anak masih menjadi tantangan global. Meski jumlahnya terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, jutaan anak di berbagai negara masih terlibat dalam pekerjaan yang berpotensi mengganggu pendidikan, kesehatan, dan tumbuh kembang mereka.
Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO bersama UNICEF mencatat sekitar 138 juta anak di dunia masih terlibat dalam pekerja anak pada 2024. Dari jumlah tersebut, hampir 54 juta anak berada dalam pekerjaan berbahaya yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan mereka.
"Di balik angka tersebut terdapat anak-anak yang seharusnya belajar, bermain, dan tumbuh dengan aman," tulis ILO dalam laman resminya.
Laporan ILO dan UNICEF menunjukkan sektor pertanian masih menjadi sektor yang paling banyak melibatkan pekerja anak. Sekitar 61 persen pekerja anak di dunia berada di sektor tersebut, disusul sektor jasa dan industri.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pekerja anak masih erat kaitannya dengan kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, dan perlindungan sosial yang belum merata.
Meski demikian, kedua lembaga tersebut mencatat adanya kemajuan dalam upaya pengurangan pekerja anak secara global. Dibandingkan empat tahun sebelumnya, jumlah pekerja anak berkurang lebih dari 20 juta anak. Namun capaian tersebut dinilai belum cukup untuk mencapai target penghapusan pekerja anak secara menyeluruh.
"Kemajuan telah dicapai, tetapi dunia harus bergerak lebih cepat untuk mengakhiri pekerja anak," tulis ILO dan UNICEF dalam laporan bersama mereka.
Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) masih mencatat adanya anak usia 5 hingga 17 tahun yang bekerja. Data pekerja anak menjadi salah satu indikator penting yang digunakan pemerintah dalam menyusun kebijakan perlindungan anak serta upaya penghapusan pekerja anak secara bertahap.
Pemerintah Indonesia juga telah menyusun Peta Jalan Indonesia Bebas Pekerja Anak 2045 sebagai bagian dari komitmen untuk menghapus pekerja anak. Program tersebut antara lain dilakukan melalui peningkatan akses pendidikan, perlindungan sosial bagi keluarga rentan, serta penguatan pengawasan ketenagakerjaan.
Peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak tahun ini menjadi pengingat bahwa penghapusan pekerja anak tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya.
Dengan demikian, setiap anak dapat memperoleh haknya untuk belajar, bermain, dan berkembang secara optimal tanpa harus kehilangan masa kanak-kanaknya karena tuntutan bekerja.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....