Lipstick Effect Jadi Fenomena Belanja saat Ekonomi Sulit
- 10 Jun 2026 18:41 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya- Fenomena Lipstick Effect kembali menjadi sorotan karena dianggap mampu menjelaskan perubahan perilaku konsumen saat kondisi ekonomi tidak menentu. Istilah ini menggambarkan kecenderungan masyarakat untuk membeli barang-barang kecil yang terjangkau namun mampu memberikan kepuasan emosional di tengah tekanan finansial.
Dilansir dari Fimela.com, konsep Lipstick Effect pertama kali dipopulerkan oleh Leonard Lauder, CEO Estée Lauder, pada tahun 2001. Ia mengamati peningkatan penjualan lipstik setelah tragedi serangan 11 September di Amerika Serikat, ketika kondisi ekonomi sedang mengalami perlambatan dan ketidakpastian.
Meski demikian, gagasan mengenai perilaku konsumsi kompensatif sebenarnya telah lebih dahulu dibahas oleh ekonom dan sosiolog Juliet Schor. Dalam kajiannya, ia menjelaskan bahwa masyarakat cenderung tetap mengalokasikan dana untuk kemewahan kecil yang dianggap mampu memberikan rasa nyaman saat menghadapi tekanan ekonomi.
Secara psikologis, fenomena ini dipicu oleh kebutuhan manusia untuk mengurangi stres dan kecemasan. Membeli produk sederhana seperti kosmetik, makanan favorit, atau barang kecil yang diinginkan dapat memberikan efek emosional positif dan meningkatkan suasana hati dalam waktu singkat.
Seiring perkembangan zaman, Lipstick Effect tidak lagi terbatas pada produk kecantikan. Berbagai bentuk “kemewahan kecil” kini mencakup kopi premium, langganan layanan hiburan digital, tiket konser, hingga pembelian barang koleksi yang memberikan pengalaman menyenangkan bagi konsumen.
Di Indonesia, fenomena ini juga terlihat melalui tren self reward, budaya healing, perjalanan wisata singkat, hingga kebiasaan nongkrong di kafe. Aktivitas tersebut menjadi cara sebagian masyarakat untuk mencari hiburan dan mengurangi tekanan kehidupan sehari-hari tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk barang mewah.
Bagi dunia usaha, memahami Lipstick Effect menjadi penting untuk membaca perubahan perilaku pasar. Sementara bagi konsumen, fenomena ini dapat menjadi pengingat bahwa memenuhi kebutuhan emosional memang penting, namun tetap perlu dilakukan secara bijak agar tidak mengganggu kesehatan keuangan jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....