BMKG Minta Jatim Waspadai Puncak Kemarau
- 11 Agt 2026 19:35 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat Jawa Timur meningkatkan kewaspadaan menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi September 2026.
Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari, mengatakan Jawa Timur saat ini masih dalam proses menuju puncak musim kemarau.
“Jawa Timur belum memasuki puncak musim kemarau. Puncaknya diperkirakan pada September,” kata Supari, saat diwawancarai RRI Surabaya, Selasa 11 Agustus 2026.
Supari menjelaskan, musim kemarau di Indonesia berlangsung secara bertahap sejak April 2026. Sementara di Pulau Jawa, periode puncak kemarau berlangsung pada Agustus hingga September.
Secara nasional, BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli hingga September, dengan wilayah terluas mencapai puncak pada Agustus.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena musim kemarau tahun ini berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino. BMKG memprediksi El Nino bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027 dan berpotensi mencapai intensitas kuat.
Meski demikian, Supari mengatakan kondisi El Nino tahun ini belum separah fenomena yang terjadi pada 1997 maupun 2015. Masyarakat diminta tidak khawatir secara berlebihan, namun tetap meningkatkan kewaspadaan.
“Kalau dibandingkan dengan kondisi El Nino tahun 1997 maupun 2015, kondisi sekarang tidak separah itu. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir, tetapi tetap harus waspada karena kondisinya masih terus kita pantau,” ujarnya.
Menurut BMKG, dampak El Nino terhadap Indonesia terutama perlu diwaspadai ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan akibat berkurangnya curah hujan.
Selain kekeringan, BMKG mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat selama periode kemarau. Risiko karhutla diperkirakan meningkat sejak Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.
BMKG menetapkan lima provinsi sebagai wilayah prioritas penguatan pemantauan dan pengawasan karhutla, yakni Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi. Pulau Jawa tidak termasuk dalam lima wilayah prioritas tersebut.
Meski demikian, Supari mengingatkan kewaspadaan tetap diperlukan di Jawa Timur. Kejadian kebakaran di kawasan Bromo menjadi salah satu pengingat bahwa wilayah yang tidak masuk prioritas utama tetap berpotensi menghadapi kebakaran ketika kondisi lingkungan semakin kering.
Karena itu, kesiapsiagaan dan mitigasi perlu diperkuat menjelang puncak kemarau. Upaya tersebut dilakukan melalui penghematan air, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, serta pencegahan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
BMKG juga mendorong pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu menjaga ketersediaan air di wilayah yang membutuhkan. Koordinasi lintas sektor dan lintas kementerian terus dilakukan sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dampak kemarau dan El Nino.
“Kesiapsiagaan dan mitigasi terus kita tumbuhkan, mulai dari menjaga ketersediaan air, melakukan penghematan air, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, termasuk koordinasi lintas bidang dan lintas kementerian,” ujar Supari.
BMKG mengimbau masyarakat Jawa Timur tetap tenang menghadapi puncak musim kemarau, namun tidak lengah. Penggunaan air secara bijak serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran menjadi bagian penting dalam kesiapsiagaan menghadapi kondisi kemarau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....