Sistem Baru Haji Dipuji

  • 26 Mei 2026 12:40 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Sekretaris Pimpinan Wilayah IPHI Jawa Timur, Imam Mawardi Ridlwan, mengapresiasi berbagai pembenahan pelaksanaan ibadah haji 2026 atau 1447 Hijriah yang dinilai lebih baik dibanding musim haji sebelumnya. Menurutnya, sejumlah sistem baru yang diterapkan pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Haji dan Umrah maupun pemerintah Indonesia membuat pelayanan jemaah semakin tertata dan menenangkan, khususnya bagi jemaah lanjut usia.

“Saya mengapresiasi langkah Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi karena tahun ini banyak perbaikan. Mekanisme dan sistem pelayanan jemaah dibuat lebih baik sehingga memberi kepastian dan rasa tenang bagi jemaah haji,” ujar Imam dalam Dialog Aspirasi RRI Surabaya, Selasa, 26 Mei 2026.

Ia mengatakan, salah satu perubahan yang paling dirasakan pada musim haji tahun ini ialah penerapan sistem syarikah atau perusahaan layanan haji yang membuat pelayanan terhadap jemaah lebih terstruktur dibanding sebelumnya. Menurutnya, pelibatan lebih dari satu syarikah membuat koordinasi layanan menjadi lebih cepat dan tertata.

“Sekarang pelayanan jemaah dibagi dalam beberapa syarikah sehingga koordinasinya lebih jelas. Ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dan birokrasi pelayanan juga menjadi lebih pendek,” katanya.

Imam menilai, pemangkasan alur birokrasi membuat berbagai kebutuhan jemaah lebih cepat ditangani, mulai dari layanan akomodasi, konsumsi, hingga mobilitas selama berada di Tanah Suci. Selain itu, pemerintah Indonesia juga memperkuat pemeriksaan kesehatan fisik, mental, dan psikologis calon jemaah sejak sebelum keberangkatan. Langkah tersebut dinilai penting karena mayoritas jemaah Indonesia merupakan kelompok lanjut usia yang membutuhkan kesiapan lebih matang.

“Pemeriksaan mental dan psikologis sekarang juga lebih baik. Jadi bukan hanya fisik, tetapi mental dan spiritual jemaah ikut dipersiapkan,” ujarnya.

Pemerintah pada musim haji 1447 Hijriah juga menerapkan skema murur dan tanazul untuk membantu jemaah saat menghadapi kepadatan di Muzdalifah dan Mina. Skema tersebut diterapkan guna mempermudah mobilitas jemaah, khususnya lansia dan kelompok risiko tinggi, saat puncak ibadah haji.

Imam menambahkan, meskipun pelaksanaan ibadah haji tahun ini belum selesai sepenuhnya, namun sejak awal proses pemberangkatan hingga menjelang puncak haji di Arafah, seluruh rangkaian pelayanan masih tergolong sangat baik. “Jelang puncak haji, aktivitas jemaah yang mayoritas lansia juga berjalan cukup baik dan kondusif. Ini menunjukkan perbaikan pelayanan mulai benar-benar terasa,” ucapnya.

Menjelang wukuf di Arafah, Imam juga mengajak masyarakat Indonesia untuk melaksanakan Tarhib Arafah dan doa bersama sebagai bentuk dukungan spiritual bagi jemaah di Tanah Suci. “Yang di Makkah berdoa, yang di Indonesia juga berdoa untuk Indonesia dan seluruh isi bumi,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....