Listrik Padam Massal, Warek ITPLN sebut Belum Bisa Disebut Blackout Nasional
- 24 Mei 2026 17:26 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera dan beberapa kota di Jawa Timur, belum dapat dipastikan sebagai peristiwa blackout nasional. Wakil Rektor IV Institut Teknologi PLN (ITPLN), Dr. Ir. M. Ahsin Sidqi, M.M., IPU., ASEAN. Eng., QRGP, menegaskan penetapan status blackout merupakan kewenangan Kementerian ESDM dan PLN.
“Yang menyatakan peristiwa itu blackout atau tidak, yang berwenang adalah Kementerian ESDM dan PLN,” ujar Ahsin Sidqi, Minggu, 24 Mei 2026. Ia menjelaskan, gangguan listrik di satu kawasan belum tentu dapat dikategorikan sebagai blackout.
Menurutnya, blackout terjadi ketika sistem kelistrikan secara menyeluruh mengalami kegagalan operasi. “Kalau gangguan di areal tertentu itu berbeda dengan blackout. Blackout itu sistemnya secara utuh memang jatuh,” katanya.
Ahsin mencontohkan, peristiwa blackout juga pernah terjadi di sejumlah negara lain. Ia menyebut kota Sydney di Australia, serta Portugal dan Spanyol, pernah mengalami pemadaman besar akibat gangguan sistem kelistrikan.
“Blackout juga terjadi di luar negeri. Waktu saya ke Australia, Sydney pernah mengalami blackout. Portugal dan Spanyol juga pernah mengalami pemadaman seperti itu,” ujarnya.
Terkait kondisi di Jawa Timur dan Sumatera, Ahsin mengatakan pihaknya masih menunggu penjelasan resmi dari PLN. Ia menyebut wilayah Jakarta hingga kini masih dalam kondisi aman tanpa gangguan listrik.
“Tapi yang terjadi di Jawa Timur, kita belum tahu. Kami yang di Jakarta masih aman,” katanya. Menurutnya, durasi pemulihan sistem listrik bergantung pada kondisi pembangkit dan jaringan transmisi.
Jika cadangan daya pembangkit masih tersedia dan transmisi siap digunakan, pemulihan dapat berlangsung relatif cepat. “Kalau cadangan panas masih ada, pembangkit bisa beroperasi sendiri, transmisinya siap, dan langsung masuk. Sebenarnya tidak lama,” ucapnya.
Namun demikian, proses pemulihan tetap harus memperhatikan kondisi jalur transmisi. Sistem kelistrikan hanya dapat dinormalkan apabila jaringan telah dipastikan aman untuk dialiri listrik kembali.
“Tetap harus dilihat jalur yang bisa dilalui, apakah sudah normal atau belum,” ujarnya.
Ahsin menambahkan, sistem pembangkit di Sumatera pada dasarnya cukup aman karena mayoritas menggunakan bahan bakar batu bara.
Meski begitu, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali beroperasi setelah padam total. “Kalau batubara memang kalau sudah padam, bangunnya lama karena harus membakar air menjadi uap,” katanya.
Ia menyebut pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menjadi salah satu andalan dalam percepatan pemulihan sistem. Beberapa PLTA besar di Sumatera dinilai mampu memasok daya lebih cepat ke jaringan listrik.
“Ada PLTA Singkarak dan di Bengkulu. Itu bisa langsung masuk karena tinggal dibuka krannya. Sehingga setengah jam bisa masuk ke jaringan, ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....