Dokter Hewan UNAIR Ingatkan Pentingnya Cek Kesehatan Hewan Kurban
- 22 Mei 2026 17:51 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Menjelang Hari Raya Idul Adha, masyarakat mulai ramai mencari hewan kurban. Pemeriksaan kesehatan hewan pun menjadi perhatian penting sebelum penyembelihan dilakukan.
Dokter hewan sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Dr. drh. Nusdianto Triakoso, MP mengatakan, kesehatan hewan menentukan kualitas daging yang dibagikan kepada masyarakat. Menurutnya, hewan kurban wajib memenuhi prinsip ASUH.
“Daging kurban harus aman, sehat, utuh, dan halal untuk dikonsumsi masyarakat,” ujarnya dalam Podcast Bebas Bicara RRI Surabaya.
Ia menjelaskan, masyarakat tidak cukup menilai kesehatan hewan dari tubuh yang gemuk. Kondisi lubang alami tubuh hewan juga wajib diperhatikan sebelum membeli.
Menurut Nusdianto, hewan sehat tidak mengeluarkan cairan berlebihan dari mata, hidung, mulut, maupun anus. Pernapasan hewan juga harus terlihat normal dan tidak berat.
“Kalau ada leleran berlebihan atau napasnya berat, itu tanda hewan tidak sehat,” katanya.
Selain kondisi fisik, usia dan jenis kelamin hewan juga harus sesuai ketentuan. Pemerintah melarang pemotongan hewan betina produktif karena berkaitan dengan aturan hukum nasional.
Ia menambahkan, sapi untuk kurban minimal berusia dua tahun. Sedangkan kambing dan domba harus berusia lebih dari satu tahun.
“Postur besar belum tentu cukup umur karena sekarang banyak hasil kawin silang,” ucapnya.
Dalam pemeriksaan kesehatan, dokter hewan melakukan dua tahapan penting. Pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah hewan disembelih. Tahap pertama disebut pemeriksaan antemortem.
Petugas memeriksa tanda-tanda penyakit melalui kondisi tubuh dan perilaku hewan. Setelah penyembelihan, pemeriksaan postmortem dilakukan pada organ dalam. Dokter hewan mengecek kelenjar limfe, paru-paru, hati, hingga perubahan warna jaringan tubuh.
“Kalau ada perubahan warna atau tekstur organ, itu harus dicurigai,” jelasnya.
Nusdianto mengatakan, dokter hewan rutin diterjunkan saat Iduladha. Mereka bertugas memeriksa kesehatan hewan di lapak penjualan maupun lokasi penyembelihan.
Kegiatan tersebut dilakukan bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia atau PDHI. Pemeriksaan bertujuan memastikan daging yang dibagikan aman dikonsumsi masyarakat. Meski begitu, jumlah dokter hewan di lapangan masih terbatas. Karena itu, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan menjelang Iduladha.
| Baca juga: Kurban Selamatkan Dunia dan Akhirat |
“Kami terus sosialisasi tentang pemilihan hewan dan penanganan daging kurban,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat terhadap penyakit hewan ternak. Beberapa penyakit yang ramai dibicarakan ialah PMK dan LSD. PMK atau Penyakit Mulut dan Kuku disebabkan virus. Gejalanya berupa liur berlebihan dan luka pada mulut serta kuku hewan.
Sementara LSD atau Lumpy Skin Disease ditandai benjolan pada kulit ternak. Penyakit tersebut tidak menular kepada manusia, namun memengaruhi kualitas daging.
“Kalau menemukan benjolan di kulit, sebaiknya jangan dipilih,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai antraks. Penyakit tersebut dapat menular kepada manusia melalui spora bakteri. Gejala antraks biasanya ditandai keluarnya darah dari lubang alami tubuh hewan. Hewan juga dapat mati mendadak dalam waktu singkat.
Menurut Nusdianto, hewan yang dicurigai terkena antraks tidak boleh dipotong paksa. Penanganannya harus diserahkan kepada petugas kesehatan hewan.
“Kalau dipotong paksa, sporanya bisa menyebar dan bertahan lama di tanah,” ujarnya.
Ia memastikan lalu lintas ternak menjelang Iduladha diawasi ketat pemerintah. Setiap hewan wajib memiliki Surat Keterangan Kesehatan Hewan atau SKKH. Pemeriksaan dilakukan sejak dari daerah asal hingga lokasi penjualan. Petugas karantina dan dinas terkait juga melakukan pengecekan di jalur distribusi ternak.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir membeli hewan di lapak resmi. Sebab, hewan telah melalui proses seleksi kesehatan yang panjang.
“Yang dijual di kota umumnya sudah diperiksa dan dipastikan sehat,” katanya.
Nusdianto turut mengingatkan pentingnya vaksinasi ternak. Langkah tersebut dinilai efektif menekan penyebaran penyakit seperti PMK dan LSD.
Ia berharap peternak tidak menolak program vaksinasi pemerintah. Sebab, kesehatan ternak juga menentukan kualitas hewan kurban yang dijual kepada masyarakat. Selain kesehatan hewan, proses penyembelihan juga memengaruhi kualitas daging. Penyembelihan sesuai syariat dinilai lebih baik berdasarkan penelitian ilmiah.
“Penyembelihan secara Islam terbukti lebih baik bagi kesejahteraan hewan,” ucapnya.
Ia menambahkan, daging kurban sebaiknya langsung dipotong kecil dan disimpan dalam freezer. Daging tidak perlu dicuci apabila proses penyembelihan dilakukan secara bersih. Menurut Nusdianto, ibadah kurban bukan hanya tentang penyembelihan. Kurban juga mengajarkan nilai berbagi dan kepedulian kepada sesama.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....