Rupiah Melemah, Krisis 1998 Kembali Diingat

  • 22 Mei 2026 13:46 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pelemahan nilai tukar rupiah yang belakangan kembali menjadi perhatian publik ternyata mengingatkan Indonesia pada krisis moneter 1998, saat rupiah pernah terjun bebas hingga menyentuh lebih dari Rp16 ribu per dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut menjadi salah satu periode paling berat dalam sejarah ekonomi Indonesia.

Berdasarkan catatan sejarah ekonomi nasional, nilai tukar rupiah saat itu anjlok drastis dari sekitar Rp2.500 menjadi lebih dari Rp16 ribu per dolar AS dalam waktu singkat. Krisis tersebut bermula dari gejolak finansial di Asia yang pertama kali terjadi di Thailand sebelum menyebar ke sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Banyak perusahaan saat itu memiliki utang dalam dolar AS sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar. Dalam catatan sejarah krisis moneter Indonesia, rupiah bahkan sempat menyentuh sekitar Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998.

Kondisi tersebut berdampak luas terhadap perekonomian nasional, mulai dari lonjakan harga kebutuhan pokok, inflasi tinggi, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK. Data sejarah ekonomi juga menunjukkan rupiah mengalami pelemahan sangat tajam selama krisis moneter 1998 hingga kehilangan sebagian besar nilainya terhadap dolar Amerika Serikat.

Pemerintah bersama Bank Indonesia dan Dana Moneter Internasional atau IMF saat itu melakukan berbagai langkah penyelamatan ekonomi, termasuk restrukturisasi perbankan dan stabilisasi pasar keuangan. Sementara itu, pelemahan rupiah yang terjadi belakangan disebut dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global, kenaikan harga minyak dunia, serta tensi geopolitik di Timur Tengah.

Dalam laporan pasar keuangan terbaru, Bank Indonesia menyebut pihaknya terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. “Stabilitas nilai tukar rupiah terus dijaga melalui langkah stabilisasi pasar,” demikian keterangan Bank Indonesia.

Meski demikian, sejumlah ekonom menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dibanding masa krisis 1998 karena fundamental ekonomi dan sistem perbankan dinilai lebih kuat. Peristiwa krisis moneter 1998 hingga kini masih menjadi pengingat penting tentang besarnya dampak gejolak global terhadap nilai tukar mata uang dan kondisi perekonomian nasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....