Ngobras Pro1 Angkat Kisah Pejuang Perempuan Terlupakan

  • 14 Mei 2026 22:21 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID,Surabaya - Program diskusi Ngobras Pro1 kembali menghadirkan ruang refleksi bagi komunitas pecinta sejarah dan budaya melalui dialog interaktif bertema “Forgotten Herstory: Merebut Kembali Sejarah Berperspektif Gender atau Pejuang Perempuan Indonesia.”

Kegiatan yang digelar langsung dari studio pada Kamis malam itu dipandu Joe Adi Yuanda dengan menghadirkan narasumber Ilham Baskoro, S.Hum, mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga, Kamis 14 Mei 2026.

Dalam diskusi tersebut, Ilham Baskoro mengajak pendengar melihat kembali sejarah perjuangan bangsa dari sudut pandang yang selama ini kerap terpinggirkan, yakni kontribusi perempuan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, narasi sejarah yang berkembang masih lebih banyak menyoroti kiprah kaum laki-laki.“Kita sering menganggap perempuan hanya berperan di belakang layar sebagai pendukung, padahal kenyataannya mereka memiliki andil yang sangat besar dan strategis dalam merebut kemerdekaan. Inilah yang ingin saya angkat, agar nama dan jasa mereka tidak terus terlupakan,” ujar Baskoro.

Salah satu tokoh yang menjadi sorotan dalam pembahasan malam itu adalah Darmiati atau yang lebih dikenal sebagai Bu Dar Mortir, sosok pejuang perempuan yang memiliki peran penting dalam Pertempuran 10 November 1945. Ia dikenal aktif mengelola dapur umum di tengah situasi perang yang penuh ancaman.

Menurut Baskoro, keberadaan Bu Dar Mortir bukan sekadar memasok kebutuhan konsumsi para pejuang, tetapi juga menjadi penghubung strategi perjuangan di lapangan. “Di tengah hujan peluru dan keterbatasan segala hal, Bu Dar berhasil mengoordinasikan hampir 20 posko pejuang.

Ia tidak hanya menyuplai makanan dan air, tetapi juga logistik senjata. Melalui jalur distribusi makanan itu pula, informasi penting mengenai strategi musuh bisa disampaikan dari satu pos ke pos lainnya,” jelasnya.

Selain Bu Dar Mortir, diskusi juga menyoroti peran Lukitaningsih, pemimpin Pemuda Putri Republik Indonesia, yang berkontribusi melalui pengiriman dokumen rahasia, penyebaran informasi taktis, hingga membantu proses evakuasi dan perawatan pejuang yang terluka maupun gugur.

“Peran perempuan di Pertempuran Surabaya jauh lebih luas daripada sekadar mengurus dapur. Mereka adalah mata, telinga, dan tenaga penggerak yang menjaga keberlangsungan perjuangan. Kisah-kisah inilah yang menjadi fokus penelitian saya saat ini untuk disusun dalam tesis,” tambah Baskoro.

Di akhir sesi, Ilham Baskoro berharap literasi mengenai perjuangan perempuan semakin luas dikenal masyarakat. “Semoga dengan semakin banyaknya literasi ini, kita sadar bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan semua pihak.

"Saya sangat berharap nama-nama pahlawan perempuan ini segera dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sebagai bentuk apresiasi negara,” katanya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....