Upacara Tedhak Siten Jadi Warisan Budaya Penuh Makna
- 13 Mei 2026 14:23 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Program Tanjung Perak Malam, Obrolan Budaya yang disiarkan pada Selasa, 12 Mei 2026 mengangkat pembahasan mengenai upacara adat Tedhak Siten. Dalam dialog tersebut, pelestari adat Jawa Ning Tari bersama pecinta budaya nusantara Cak Ries menjelaskan makna, tata cara, serta pentingnya menjaga tradisi budaya Jawa tersebut agar tetap dikenal generasi muda.
Ning Tari menjelaskan bahwa Tedhak Siten merupakan upacara adat yang dilakukan ketika bayi memasuki usia tujuh bulan menurut hitungan Jawa. Tradisi ini menjadi simbol awal bayi mulai menapak tanah dan diperkenalkan dengan kehidupan serta lingkungan sekitarnya. “Tedhak siten itu maknanya ketika anak mulai turun dan menapak tanah, sebagai doa agar kelak mampu menjalani kehidupan dengan baik,” ujar Ning Tari.
Ia menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan Tedhak Siten terdapat berbagai ubo rampe atau perlengkapan adat yang memiliki makna tersendiri. Beberapa di antaranya seperti jadah warna-warni, tangga dari tebu, kurungan ayam, hingga berbagai benda pilihan yang nantinya dipilih oleh sang anak. Setiap perlengkapan tersebut melambangkan doa agar anak memiliki kehidupan yang baik dan penuh keberkahan.
Ning Tari menambahkan, jadah warna-warni yang dilewati bayi juga memiliki filosofi tersendiri. Warna-warna tersebut melambangkan sifat dan karakter dalam kehidupan manusia. Misalnya warna merah melambangkan keberanian, sementara warna lainnya menggambarkan kesabaran, ketenangan, dan harapan baik dalam menjalani kehidupan.
Dalam tata cara pelaksanaannya, bayi akan dipandu melewati jadah tujuh warna dan menaiki tangga tebu sebelum dimasukkan ke dalam kurungan ayam. Ning Tari menjelaskan bahwa rangkaian tersebut mengandung filosofi perjalanan hidup manusia yang penuh tantangan dan harapan agar anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mandiri.
Selain itu, prosesi pemilihan benda di dalam kurungan juga dipercaya sebagai simbol minat atau cita-cita anak di masa mendatang. Ning Tari menuturkan bahwa benda-benda tersebut biasanya berupa alat tulis, uang, kitab, atau perlengkapan lain yang melambangkan profesi tertentu. “Semua itu merupakan doa dan harapan orang tua untuk masa depan anak,” katanya.
Sementara itu, Cak Ries mengajak masyarakat untuk terus menguri-uri atau melestarikan budaya Tedhak Siten di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar seremonial, tetapi juga sarat nilai filosofi dan kebersamaan keluarga. “Budaya seperti tedhak siten ini jangan sampai hilang, karena di dalamnya ada nilai kebersamaan dan penghormatan kepada warisan leluhur,” ujar Cak Ries.
Cak Ries menambahkan bahwa peran orang tua sangat penting dalam mengenalkan budaya kepada generasi muda. “Kita sebagai orang tua harus mengajarkannya kepada anak-anak muda karena merekalah penerus budaya ini. Kalau tidak ada yang meneruskan, budaya kita bisa hilang,” pungkasnya. Tedhak Siten dinilai bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga sarana mempererat hubungan keluarga serta menanamkan nilai budaya kepada generasi penerus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....