Mahasiswa Biologi ITS Dalami Pertanian Berkelanjutan di Kebun Kita Malaysia
- 13 Mei 2026 11:20 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Dalam rangka penguatan sustainable farming di Surabaya, Mahasiswa Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjalani kunjungan ke Kebun Kita di Petaling Jaya, Malaysia. Kebun yang juga dikenal sebagai Green Street Farm ini merupakan contoh nyata penerapan Recirculating Aquaculture System (RAS) akuaponik yang mengedepankan konsep keberlanjutan dan zero waste.
Koordinator Program Global Community Outreach (GCO) Biologi ITS 2026 Dr rer.nat Arif Luqman SSi MT menekankan bahwa penguatan sektor Green Farming menjadi kebutuhan mendesak di tengah tekanan urbanisasi saat ini.
"Praktik pertanian hijau seperti akuaponik tidak lagi dapat dipandang sebagai hobi semata, melainkan sebuah strategi ketahanan pangan yang mampu menjawab tantangan keberlanjutan," ujar Arif.
Model pertanian terpadu yang diadopsi oleh Kebun Kita menerapkan prinsip kerja RAS, di mana pendekatan ini memadukan budidaya ikan lele dengan sayuran hidroponik organik dalam satu siklus tertutup. Metode tersebut dinilai efisien dalam memanfaatkan buangan yang sudah tidak bernilai, menjunjung tinggi konsep zero waste. Sistem ini tidak mengenal konsep limbah sebagai masalah, melainkan sebagai bahan baku yang belum selesai dimanfaatkan.
Yan Neuhoff selaku pengelola Green Street Farm menjelaskan, prinsip kerja RAS di Kebun Kita bertumpu pada daur ulang air dan nutrisi secara terus-menerus. Sistem tersebut mengonversi seluruh limbah akuakultur menjadi dua bentuk pupuk alami. Limbah cair yang terkandung dalam air kolam digunakan untuk menyuburkan kangkung hidroponik, sedangkan limbah padat berupa feses diolah menjadi kompos bagi pohon pisang serta kebun buah di sekitarnya.
Dalam prosesnya, feses lele disaring dalam unit pemisah padatan untuk menghasilkan pupuk padat siap guna. Sedangkan, air kolam yang mengandung amonia dipompa menuju biofilter dan diolah oleh bakteri nitrifikasi menjadi nutrisi tanaman.
“Metode ini mengintegrasikan filtrasi mekanik untuk menyaring ekskremen serta filtrasi biologis melalui oksidasi amonia menjadi nitrat hingga siap diserap kangkung hidroponik,” ujar Yan.
Sistem resirkulasi di Kebun Kita mampu mendaur ulang lebih dari 95 persen air tanpa membuangnya ke saluran kota, sekaligus menjaga kualitas air tetap optimal. Berkat RAS, diperoleh keuntungan ganda berupa panen ikan lele organik berukuran besar dan sayuran kangkung segar bebas pestisida. Prinsip utama yang dipegang Kebun Kita adalah memandang setiap limbah sebagai aset yang belum ditempatkan pada fungsi yang tepat.
Di samping itu, sistem ini juga mengoptimalkan pemanfaatan sisa makanan rumah tangga. Ikan lele yang ditempatkan dalam tangki dibesarkan menggunakan pelet bergizi tinggi. Pelet tersebut diproduksi secara mandiri dari beragam sampah makanan dapur.
“Pendekatan ini memastikan bahwa tidak ada bahan organik yang terbuang sia-sia dalam siklus budidaya, disertai pemantauan nutrisi yang terukur,” tambah Yan.
Pria berkebangsaan Jerman tersebut turut melibatkan langsung warga sekitar dalam pengelolaan sistem RAS. Keterlibatan ini menciptakan lapangan kerja lokal sekaligus meningkatkan pemberdayaan komunitas. Hal tersebut ditekankan sebagai kunci agar keberlanjutan tidak hanya berhenti pada tahap proyek percontohan, melainkan terdorong menjadi praktik rutin yang terintegrasi dalam kehidupan jangka panjang.
“Karena solusi pangan masa depan tidak menunggu, tetapi kita ciptakan mulai dari hari ini,” ujar Yan.
Keberhasilan Kebun Kita menunjukkan bahwa pertanian perkotaan berbasis RAS mampu menjadi solusi pangan masa depan. Neuhoff mengajak masyarakat untuk berkomitmen mengimplementasikan konsep green farm ini di lingkungan masing-masing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....