Persatuan Insinyur Indonesia Gresik Dorong Keseimbangan Industri - Lingkungan

  • 18 Jun 2026 08:48 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Gresik mendorong agar pertumbuhan industri di kawasan pesisir Kabupaten Gresik dapat berjalan seimbang dengan upaya pelestarian lingkungan, terutama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Gresik sekaligus Dewan Pakar IKA ITS Jawa Timur, Ali Yusa, saat memberikan keterangannya kepada RRI Surabaya, Rabu 16 Jui 2026 mengatakan Kabupaten Gresik saat ini tengah mengalami transformasi ekonomi yang signifikan sebagai salah satu pusat hilirisasi industri nasional di Jawa Timur.

Kehadiran kawasan industri dan pelabuhan terpadu seperti Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) memperkuat posisi Gresik sebagai kawasan strategis di sektor manufaktur, logistik, dan industri maritim. Namun demikian, Ali Yusa mengingatkan bahwa percepatan pertumbuhan industri di wilayah pesisir juga membawa tantangan terhadap kelestarian lingkungan, seperti potensi abrasi, degradasi ekosistem mangrove, serta perubahan dinamika wilayah pesisir.

“Pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Keseimbangan ini penting agar kawasan pesisir tetap berkelanjutan dan tidak menimbulkan risiko jangka panjang terhadap infrastruktur maupun aktivitas industri,” katanya.

Menurutnya, ekosistem mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung alami wilayah pesisir. Mangrove mampu meredam gelombang laut, menahan sedimen, serta menjaga stabilitas garis pantai sehingga menjadi bagian penting dalam mitigasi risiko kawasan pesisir.

Ali Yusa menjelaskan, salah satu bentuk nyata upaya pelestarian tersebut adalah kegiatan penanaman 2.000 bibit mangrove di kawasan Kalimireng, Desa Manyarsidomukti, Gresik. Kegiatan tersebut dilakukan oleh PII Cabang Gresik bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk dukungan dari Program Studi Teknik Konstruksi Perkapalan Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

“Kegiatan ini bukan hanya penanaman mangrove, tetapi bagian dari upaya mitigasi risiko lingkungan yang berdampak langsung pada keberlanjutan kawasan industri dan pesisir,” ujarnya.

Ia menambahkan, dari sisi ekonomi, kerusakan kawasan pesisir akibat abrasi dan degradasi lingkungan akan menimbulkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan upaya pencegahan melalui rehabilitasi ekosistem. Karena itu, konservasi mangrove dinilai sebagai bentuk investasi jangka panjang.

Ali Yusa juga menyoroti pentingnya integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam pembangunan kawasan industri pesisir. Menurutnya, pendekatan tersebut kini menjadi standar global dalam pengembangan industri berkelanjutan.

Selain itu, keterlibatan dunia pendidikan dalam kegiatan tersebut dinilai penting. Kawasan Kalimireng, menurutnya, dapat menjadi living laboratory bagi mahasiswa untuk mempelajari interaksi antara teknologi maritim, ekosistem pesisir, dan pembangunan berkelanjutan. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga memahami langsung bagaimana dinamika lingkungan pesisir dan industri saling berkaitan,” katanya.

Ali Yusa menegaskan, pembangunan kawasan pesisir membutuhkan kolaborasi berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan organisasi profesi. “Kolaborasi menjadi kunci agar pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan seimbang dan saling menguatkan,” ujarnya.

PII Gresik berharap model kolaborasi ini dapat menjadi contoh pengembangan kawasan industri pesisir yang berkelanjutan di daerah lain, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan daya dukung lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....