OPOP Jatim Dorong Koppontren Kembangkan Usaha Produktif dan Mandiri
- 07 Mei 2026 15:11 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- OPOP Jatim Dorong Koppontren Kembangkan Usaha Produktif dan Mandiri
- Sekretaris Jenderal OPOP Jatim, Gus Ghofirin, mengatakan koperasi pesantren perlu memperkuat sektor usaha produktif dan tidak hanya bergantung pada usaha simpan pinjam.
RRI.CO.ID, Madiun – Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur bersama OPOP Jatim menggelar Workshop Modernisasi Koperasi Pondok Pesantren di Hotel The Sun, Kota Madiun, Selasa-Rabu, 5-6 Mei 2026. Kegiatan tersebut diikuti 50 peserta dari 25 pondok pesantren di Jawa Timur.
Workshop membahas penguatan tata kelola, digitalisasi manajemen, hingga pengembangan usaha koperasi pesantren. Kegiatan itu ditujukan untuk meningkatkan kapasitas koperasi agar mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi dan memperkuat daya saing usaha.
Kepala Lapenkopwil Jawa Timur, Faishol Chusni, dalam pemaparannya menekankan pentingnya tata kelola koperasi yang baik untuk menjaga keberlanjutan usaha. Sementara perwakilan LPK Nay Nau Jasa Utama Cabang Jawa Timur menyampaikan materi terkait digitalisasi manajemen koperasi guna meningkatkan efisiensi dan transparansi operasional.
Sekretaris Jenderal OPOP Jatim, Gus Ghofirin, mengatakan koperasi pesantren perlu memperkuat sektor usaha produktif dan tidak hanya bergantung pada usaha simpan pinjam. Menurutnya, koperasi pesantren memiliki peluang besar untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
“Koperasi pesantren harus berani naik kelas dengan mengembangkan usaha berbasis potensi lokal yang dimiliki masing-masing pesantren. Jangan hanya bertumpu pada simpan pinjam, tetapi mulai membangun unit usaha riil yang bisa memberikan nilai tambah dan membuka peluang ekonomi baru,” kata Gus Ghofirin, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 7 Mei 2026.
Ia menilai pesantren memiliki kekuatan komunitas dan sumber daya yang dapat dikembangkan melalui koperasi yang dikelola secara profesional. Menurutnya, penguatan koperasi tidak hanya berdampak pada lingkungan pesantren, tetapi juga masyarakat sekitar.
Dalam workshop tersebut, peserta juga mengikuti praktik penyusunan studi kelayakan bisnis koperasi. Peserta diajak mengidentifikasi potensi usaha, menganalisis peluang pasar, serta menyusun rencana usaha yang dinilai realistis dan terukur.
“Koperasi bisa lebih terarah dalam mengambil keputusan usaha melalui studi kelayakan bisnis, sehingga risiko dapat diminimalkan dan usaha yang dijalankan memiliki prospek yang jelas,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....