Kartini Kini Kuasai Ruang Digital
- 21 Apr 2026 10:34 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Memperingati Hari Kartini pada 21 April 2026, semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini kembali dihidupkan dalam konteks yang lebih luas. Jika dahulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan, kini tantangan berkembang ke ruang digital yang kian menentukan arah informasi, opini, dan pengaruh di masyarakat.
Dalam dialog Aspirasi di Radio Republik Indonesia Surabaya, Selasa, 21 April 2026, Ketua Dewan Eksekutif Institut KAPAL Perempuan, Misiyah, menegaskan perempuan saat ini menghadapi tiga krisis besar yang saling berkaitan, yakni krisis ekonomi, krisis demokrasi, dan krisis iklim.
Menurutnya, krisis demokrasi terlihat dari menurunnya kualitas demokrasi di Indonesia. Data The Economist Intelligence Unit menunjukkan indeks demokrasi Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, yang berdampak pada ruang partisipasi publik, termasuk bagi perempuan.
“Perempuan hari ini dihadapkan pada tiga krisis besar, yaitu ekonomi, demokrasi, dan iklim. Ini bukan situasi yang sederhana, sehingga membutuhkan kesadaran dan peran aktif perempuan di berbagai ruang, termasuk digital,” ujar Misiyah.
Ia menambahkan, tantangan tersebut seharusnya membuat perempuan kembali merujuk pada gagasan Kartini tentang kemandirian. Dalam berbagai suratnya, Kartini menekankan pentingnya perempuan berpikir mandiri, berani bersuara, dan berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.
“Semangat Kartini itu bukan hanya soal emansipasi, tetapi kemandirian perempuan. Hari ini, kemandirian itu juga harus hadir di ruang digital,” jelasnya.
Lebih lanjut, Misiyah menekankan pentingnya literasi digital sebagai fondasi utama agar perempuan mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah derasnya arus informasi. Literasi digital dinilai penting agar perempuan dapat memilah informasi, menghindari disinformasi, serta menggunakan teknologi secara bijak dan produktif.
“Perempuan tidak boleh hanya menjadi pengguna pasif. Kita harus mampu mengendalikan informasi, membangun narasi, serta mendukung program penyetaraan dan pemenuhan hak perempuan,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa perempuan perlu menjadi pribadi yang berdampak, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi sesama perempuan. Dengan membangun solidaritas, kepedulian, dan keberanian untuk saling membela, perempuan dapat menciptakan ruang digital yang lebih aman dan memberdayakan.
“Perempuan harus berani membela sesama perempuan, membangun kesadaran kritis, dan peduli terhadap situasi yang dihadapi perempuan lain. Jika ada yang tidak benar, harus berani melaporkan,” tambahnya.
Sejalan dengan hal tersebut, laporan UN Women menyebutkan bahwa perempuan masih menghadapi tantangan serius di ruang digital, mulai dari kekerasan berbasis gender online hingga kesenjangan akses teknologi. Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang digital belum sepenuhnya aman dan setara.
Melalui momentum Hari Kartini, perempuan diharapkan tidak hanya hadir di ruang digital, tetapi juga mampu menguasainya secara cerdas, kritis, dan berdaya. Dengan penguatan literasi digital serta komitmen untuk saling mendukung, perempuan dapat menjadikan ruang digital sebagai sarana untuk memberi dampak nyata dan mendorong perubahan sosial yang lebih adil dan setara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....