Perbedaan Adalah Anugerah, Bukan Sumber Konflik

  • 21 Apr 2026 07:41 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah kemajemukan bangsa yang terdiri dari ribuan pulau dan beragam latar belakang, sering kali muncul tantangan dalam berinteraksi antarindividu maupun kelompok. Perbedaan suku, agama, dan karakter manusia terkadang justru menjadi pemicu gesekan yang tidak perlu dalam kehidupan bermasyarakat.

Fenomena ini menjadi latar belakang pentingnya membangun moderasi beragama guna menjaga keutuhan bangsa. Dalam dialog Moderasi Beragama di Pro 4 RRI Surabaya, Senin, 20 April 2026, narasumber dari FKUB Kota Surabaya, H. Ibrahim, menegaskan bahwa keragaman merupakan realitas yang tidak dapat dihindari.

Menurutnya, sebagai bangsa Indonesia, penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk mulai mengubah cara pandang dalam menyikapi perbedaan tersebut. "Karena perbedaan itu suatu keniscayaan tidak bisa kita mengalahkan, maka perbedaan itu kita terima, tapi kita mencari persamaan," ujar Ibrahim dalam siaran tersebut.

Ia menekankan bahwa alih-alih meruncingkan perbedaan, masyarakat sebaiknya fokus mencari titik temu demi keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara. Ibrahim menjelaskan bahwa Indonesia mengakui enam agama berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945.

Keberagaman ini, menurutnya, adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus disyukuri. Ia mengajak masyarakat untuk menanggalkan ego masing-masing dan mulai merawat semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi utama.

Pentingnya mencari persamaan ini diibaratkan seperti perjalanan panjang di atas kapal laut, di mana orang-orang dari berbagai latar belakang berkumpul dan berinteraksi. Dalam ruang lingkup tersebut, perbedaan latar belakang tidak menghalangi terciptanya keakraban melalui dialog ringan seperti "ngopi bareng" dan obrolan santai, yang justru mempererat persaudaraan.

Terkait tantangan karakter manusia yang terkadang sulit beradaptasi, Ibrahim menyoroti peran strategis tokoh agama dalam memberikan edukasi. Melalui diskusi dan pendekatan yang persuasif, para tokoh agama terus berupaya memberikan pengertian kepada masyarakat agar tidak mudah terjebak dalam prasangka atau konflik.

Selain edukasi, aksi nyata juga menjadi kunci. Ibrahim mencontohkan berbagai kegiatan komunitas, seperti acara makan bersama atau kerja bakti, yang terbukti efektif mencairkan suasana. Hal ini bertujuan agar masyarakat tidak lagi membuat sekat-sekat eksklusif yang memicu perpecahan di lingkungan tempat tinggal.

FKUB Kota Surabaya sendiri aktif melakukan kunjungan rutin ke berbagai tempat ibadah, baik masjid maupun gereja, sebagai wujud nyata menjaga kerukunan. Langkah ini tidak hanya untuk memantau situasi, tetapi juga untuk merangkul tokoh-tokoh dari enam agama agar bersama-sama menjamin kedamaian di Kota Surabaya.

Tidak hanya soal ibadah, FKUB juga menaruh perhatian pada aspek kesejahteraan ekonomi masyarakat. Ibrahim mengungkapkan, "Konflik bisa saja terjadi karena faktor tidak punya pekerjaan. Maka kita mencarikan solusi supaya orang ini diberikan pekerjaan." Program ini menjadi bukti bahwa kerukunan juga berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Dalam menyikapi perbedaan mazhab atau praktik keagamaan, Ibrahim menekankan pentingnya pemahaman yang mendalam agar tidak terjadi salah paham. Ia mencontohkan kerukunan ormas keagamaan yang bersatu padu saat acara halal bihalal sebagai bukti bahwa perbedaan cara beribadah tidak menghalangi persatuan jika dilandasi oleh sikap saling menghormati.

Terkait pengelolaan hati, Ibrahim merujuk pada ajaran Imam Al Ghazali mengenai tiga jenis hati: hati yang mati, hati yang sakit, dan hati yang damai. Menurutnya, untuk menjadi pribadi yang mampu hidup damai di tengah perbedaan, seseorang harus terus berupaya membersihkan hatinya dengan beristighfar, bersedekah, dan menebar kebaikan.

Sebagai penutup, Ibrahim mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus mengedepankan dialog dan saling berbagi ilmu. Ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti kerja bakti, sebagai sarana nyata untuk mempererat tali silaturahmi, merawat kebersamaan, dan mensyukuri rahmat perbedaan dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....