Praktisi Media Soroti Emansipasi Kartini di Era Digital

  • 20 Apr 2026 22:41 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Semangat emansipasi yang diwariskan Raden Ajeng Kartini kini menghadapi tantangan baru di tengah derasnya arus teknologi digital. Jika dahulu perjuangan dilakukan melalui surat dan pemikiran, kini medan juang berpindah ke ruang-ruang virtual yang serba cepat dan terbuka. Perempuan masa kini dituntut tidak hanya bersuara, tetapi juga cakap mengelola informasi dan membangun pengaruh secara cerdas.

Praktisi media, Wahyu Kristian Natalia, menilai bahwa semangat Kartini tetap relevan, namun harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ia menyebutkan bahwa penguasaan teknologi menjadi kunci bagi perempuan untuk tetap berdaya di era digital.

“Jika Kartini hidup di masa sekarang, ia kemungkinan besar akan menggunakan media sosial seperti X untuk advokasi cepat, atau Instagram untuk edukasi visual,” ujar perempuan yang juga menjadi Dosen Ilmu Komunikasi Binus University Malang ini, Senin 20 April 2026.

Menurutnya, platform digital membuka peluang besar bagi perempuan untuk menyuarakan gagasan secara lebih luas dan instan. Meski demikian, Wahyu menyoroti bahwa ruang digital belum sepenuhnya aman bagi perempuan.

Ia menyinggung tingginya kekerasan simbolik serta normalisasi ujaran yang merendahkan perempuan yang masih sering terjadi di berbagai platform. Selain itu, risiko juga dirasakan oleh perempuan yang berprofesi sebagai jurnalis.

Mereka tidak hanya menghadapi tekanan pekerjaan, tetapi juga ancaman di ruang digital yang bisa berdampak pada keamanan pribadi maupun profesional. “Literasi digital memang penting, tetapi itu saja tidak cukup. Kita membutuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga etika dalam berinteraksi di dunia digital,” kata Wahyu.

Ia menekankan pentingnya tanggung jawab bersama dalam menciptakan ruang digital yang lebih sehat. Dalam konteks ini, perempuan didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga agen perubahan yang mampu membentuk narasi positif.

Penggunaan media digital harus diarahkan untuk memperkuat nilai, bukan sekadar mengikuti arus. Pesan utama bagi Kartini masa kini, lanjut Wahyu, adalah mengutamakan kualitas konten dibanding popularitas semata. Konten yang berdampak adalah yang memiliki dasar data, tujuan yang jelas, serta disampaikan secara konsisten.

“Suara yang kuat bukan yang paling ramai, tetapi yang paling bermakna dan berkelanjutan,” katanya mengakhiri. (Cantya).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....