Fenomena Sandwich Generation Jadi Sorotan Publik Indonesia

  • 17 Apr 2026 10:15 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Topik mengenai Sandwich Generation belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya Twitter. Istilah ini merujuk pada generasi usia produktif yang berada di posisi “terjepit”, karena harus menanggung kebutuhan generasi di atasnya, seperti orangtua, sekaligus generasi di bawahnya, seperti anak atau adik, serta tetap memenuhi kebutuhan diri sendiri.

Dilansir dari Cosmopolitan.co.id, istilah Sandwich Generation pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy Miller dan Elaine Brody pada 1981. Awalnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan perempuan usia 30 hingga 40 tahun yang harus merawat anak sekaligus memenuhi kebutuhan orangtua.

Namun, seiring waktu, konsep ini berkembang dan kini mencakup pria maupun wanita dengan rentang usia yang lebih luas. Fenomena ini juga diklasifikasikan lebih lanjut oleh Carol Abaya menjadi beberapa kategori, seperti Traditional Sandwich Generation, Club Sandwich, dan Open-faced Sandwich.

Klasifikasi ini menggambarkan beragam kondisi individu yang harus menanggung lebih dari satu lapisan generasi dalam keluarganya. Menjadi bagian dari Sandwich Generation tidaklah mudah. Tekanan finansial menjadi tantangan utama karena pendapatan harus dibagi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari biaya hidup orangtua, pendidikan anak, hingga kebutuhan pribadi.

Selain itu, beban emosional dan fisik juga kerap muncul akibat tanggung jawab yang terus-menerus. Tak hanya itu, kondisi ini juga berdampak pada kesehatan mental dan perkembangan karier.

Banyak individu yang harus mengorbankan waktu, bahkan mengambil keputusan besar seperti berhenti bekerja demi merawat keluarga. Perasaan stres, cemas, hingga terisolasi seringkali menjadi bagian dari kehidupan generasi ini.

Di Indonesia, fenomena Sandwich Generation semakin umum terjadi karena faktor budaya kekeluargaan yang kuat, minimnya perencanaan finansial, serta tuntutan sosial. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan membuat banyak orang terjebak dalam siklus tanggung jawab lintas generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....