Menjaga Waras dengan Al-Qur'an: Cahaya Pagi Kupas Kesehatan Mental
- 08 Apr 2026 05:37 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Kesehatan mental kini menjadi isu krusial di tengah dinamika kehidupan perkotaan yang serba cepat. Menanggapi hal tersebut, program Cahaya Pagi Pro 4 RRI Surabaya edisi Rabu (8/4) terhubung sebagai narasumber Ustaz Abdul Halim, Penyuluh KUA Kecamatan Semampir, Kemenag Kota Surabaya, untuk membahas topik "Ayat Al-Qur'an Tentang Kesehatan Mental & Cara Terapinya."
Dalam balutan dialog interaktif, Ustadz Abdul Halim menekankan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar kitab hukum, melainkan manual kehidupan yang mencakup kesehatan jiwa. Beliau mengutip salah satu ayat kunci dalam QS. Al-Isra ayat 82: "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman..."
"Kesehatan mental dalam Islam berakar pada ketenangan hati (tuma'ninah). Ketika pikiran bising dan hati gelisah, Al-Qur'an hadir sebagai asy-Syifa atau penyembuh bagi penyakit-penyakit dada seperti kecemasan berlebih, kesedihan mendalam, hingga rasa putus asa," ujar Ustadz Abdul Halim.
| Baca juga: Konflik Keluarga Dikelola dengan Nilai Islam |
3 Terapi Qur'ani untuk Kesehatan Mental
Menurut Ustadz Abdul Halim, ada beberapa langkah konkret yang diajarkan Al-Qur'an untuk menjaga stabilitas emosional:
Dzikir sebagai Penenang Adrenalin
Berdasarkan QS. Ar-Ra'd ayat 28, mengingat Allah adalah kunci utama. Secara psikologis, dzikir membantu menurunkan tingkat stres dan memberikan rasa aman.
Manajemen Sabar dan Shalat
Menghadapi tekanan hidup (stressor) memerlukan katarsis. Al-Qur'an menyarankan menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam menghadapi trauma atau beban hidup.
Self-Acceptance (Qana’ah)
Banyak gangguan mental bermula dari rasa tidak puas. Ustadz Abdul Halim menjelaskan bahwa konsep syukur dan qana'ah (merasa cukup) adalah bentuk terapi kognitif terbaik agar seseorang tidak terjebak dalam depresi akibat ekspektasi yang tidak realistis.
Pentingnya Sinergi Ulama dan Praktisi Kesehatan
Di akhir sesi, Ustadz Abdul Halim mengingatkan bahwa melakukan terapi dengan Al-Qur'an bukan berarti mengabaikan bantuan medis profesional.
"Jika memang ada gangguan klinis, berobat ke psikolog atau psikiater adalah bagian dari ikhtiar yang diperintahkan agama. Al-Qur'an menyempurnakannya dari sisi spiritual agar pemulihan berjalan lebih utuh (holistik)," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....