Membentuk Keluarga Sakinah Sesuai Ajaran Nabi Muhammad Saw
- 16 Sep 2026 06:58 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Pernikahan dalam Islam bukan sekadar penyatuan dua insan dalam ikatan suci, melainkan sebuah ikhtiar panjang untuk membangun fondasi masyarakat yang beradab. Hal tersebut menjadi bahasan utama dalam program siaran "Cahaya Pagi" Pro 4 RRI Surabaya yang mengudara pada Rabu, 16 September 2026. Siaran spiritual pagi ini menghadirkan perbincangan mendalam mengenai panduan praktis dan nilai-nilai esensial dalam membangun rumah tangga yang harmonis.
Dalam kesempatan tersebut, terhubung sebagai narasumber yakni Ustaz Zainul Arifin, Penyuluh Agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Semampir, Kota Surabaya. Zainul memaparkan bahwa konsep sakinah, mawaddah, wa rahmah bukan hanya slogan pelengkap dalam pernikahan, melainkan tujuan utama yang membutuhkan komitmen berkelanjutan dari suami maupun istri.
Ustaz Zainul Arifin menekankan bahwa teladan terbaik dalam menavigasi bahtera rumah tangga telah ditunjukkan secara sempurna oleh Rasulullah SAW. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW memberikan contoh nyata bagaimana memperlakukan pasangan dengan penuh penghormatan, kelembutan, dan rasa empati. Hal-hal mendasar inilah yang sering kali terabaikan dalam dinamika kehidupan modern saat ini.
"Membentuk keluarga sakinah itu dimulai dari niat meneladani Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok suami yang tidak pernah segan membantu urusan rumah tangga, mendengarkan keluh kesah istri, dan menyelesaikan setiap benturan dengan kepala dingin. Kunci utamanya ada pada komunikasi yang santun dan rasa saling menghargai," tuturnya saat mengudara di Pro 4 RRI Surabaya.
Lebih lanjut, Ustaz Zainul Arifin menjelaskan pentingnya pemenuhan hak dan kewajiban secara seimbang dalam Islam. Suami berperan sebagai pemimpin yang mengayomi dan menyediakan nafkah halal, sementara istri menjadi mitra sejajar yang menjaga amanah serta mengelola ketenangan di dalam rumah. Ketika kedua pihak fokus pada kewajiban masing-masing daripada menuntut hak, ketenteraman jiwa akan tercipta secara alami.
Selain landasan kasih sayang dan komunikasi, aspek kepemimpinan yang berlandaskan ketakwaan juga menjadi pilar utama. Zainul mengingatkan bahwa rumah tangga yang kuat adalah rumah tangga yang menghidupkan syariat Islam di dalamnya, seperti menjaga salat berjemaah, membiasakan interaksi dengan Al-Qur'an, dan memelihara kebiasaan musyawarah dalam mengambil setiap keputusan keluarga.
Mengakhiri paparan dalam siaran Cahaya Pagi tersebut, Penyuluh Agama KUA Semampir ini berpesan kepada masyarakat Surabaya untuk terus belajar dan memupuk kesabaran. Setiap ujian dalam rumah tangga hendaknya dipandang sebagai media untuk mendewasakan diri dan mendekatkan jiwa kepada Allah SWT, sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....