Jaga Amal Ramadan Tetap Istiqomah

  • 26 Mar 2026 08:15 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Memasuki sepekan pasca Ramadan, umat Muslim diajak untuk melakukan refleksi terhadap kualitas ibadah yang telah dijalankan selama bulan suci. Momentum ini menjadi penting untuk melihat sejauh mana konsistensi amal tetap terjaga di luar Ramadan.

Ketua Departemen Humas PW Salimah Jawa Timur, Rachma Ayuningtyas, yang akrab disapa Ustazah Yuyun, menegaskan bahwa ujian keimanan sesungguhnya justru hadir setelah Ramadan berakhir. “Satu pekan lepas dari bulan Ramadhan, mari kita lihat kembali bagaimana kondisi kita. Apakah kita masih istiqomah membaca Al-Qur’an, melakukan amal sholeh, dan lain sebagainya. Karena sesungguhnya ujian kita yang sejati adalah saat sudah tidak berada di bulan Ramadhan. Jangan sampai amal yang sudah kita lakukan selama Ramadhan kita rusak,” ujarnya saat memberikan tausiyahnya dalam Mutiara Pagi Pro 1 RRI Surabaya, Kamis, 26 maret 2026.

Ia menjelaskan, rusaknya amal dapat terjadi ketika seseorang kembali melakukan kemaksiatan, bahkan meninggalkan kewajiban seperti salat. Kondisi ini perlu diwaspadai agar tidak menjadikan seseorang merugi di akhirat.

“Jangan sampai kita menjadi orang yang bangkrut dalam hal amal ibadah, yang kelak habis karena perbuatan kita yang menyakiti atau mendzolimi sesama,” katanya.

Peringatan tersebut selaras dengan hadis Rasulullah SAW: "Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki harta.” Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa karena mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya…” (HR. Muslim).

Ustazah Yuyun menambahkan, kesibukan kerap menjadi alasan menurunnya kualitas ibadah setelah Ramadan. Karena itu, ia mengimbau agar umat Muslim menjaga konsistensi amal, minimal setara dengan yang dilakukan selama bulan suci.

Salah satu amalan yang dianjurkan adalah puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Amalan ini tidak hanya menjaga ritme ibadah, tetapi juga memiliki keutamaan besar.

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim).

Hal tersebut diperkuat dalam Al-Qur’an Surah Al-An’am ayat 160: “Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa membawa perbuatan buruk, maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka tidak dizalimi.” (QS. Al-An’am: 160).

Menurutnya, puasa Syawal dapat menjadi upaya menjaga semangat ibadah agar tidak larut dalam euforia Idulfitri. “Puasa di bulan Syawal ini membawa pahala besar dan membantu agar amalan di bulan Ramadan tidak rusak. Ini juga menjaga semangat ibadah kita agar tetap hidup,” tuturnya.

Dengan demikian, pasca Ramadan menjadi momentum penting untuk menjaga kesinambungan ibadah, sebagai bentuk pembuktian kualitas keimanan dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....