Ngobras Bahas Budaya Tionghoa Bersama Muda - Mudi PMTS

  • 25 Mar 2026 05:17 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Program Ngobras Pro 1 RRI Surabaya kembali menghadirkan dialog menarik dengan mengangkat tema keberagaman budaya pada Selasa, 24 Maret 2026. Acara yang berlangsung di studio RRI Surabaya ini dipandu oleh Joe Adi Yuanda dan menghadirkan perwakilan dari komunitas Muda Mudi Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS) sebagai narasumber.

Dialog ini tidak hanya berlangsung secara langsung di studio, tetapi juga membuka ruang interaksi bagi pendengar melalui sambungan telepon dan WhatsApp. Partisipasi aktif masyarakat membuat suasana perbincangan semakin hidup dan atraktif, sekaligus mencerminkan tingginya antusiasme publik terhadap isu keberagaman budaya.

Hadir sebagai narasumber, Edwin Surya dan Liong Pascariana yang memaparkan berbagai hal terkait komunitas yang mereka naungi. Mulai dari sejarah berdiri hingga program kegiatan, keduanya menjelaskan peran PMTS dalam merawat nilai-nilai budaya di tengah masyarakat modern.

Dalam pemaparannya, Edwin Surya mengungkapkan awal mula berdirinya komunitas tersebut. “Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya atau PMTS didirikan sekitar November 2022 oleh Bapak Ivan Arista, dengan Bapak Haji Abdullah Nurawi sebagai tokoh senior yang kami hormati,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa PMTS dirancang sebagai wadah lintas generasi. “Komunitas ini terdiri dari generasi tua dan muda. Kami ingin adanya kesinambungan ilmu dan nilai yang bisa ditransfer dari yang sudah berpengalaman kepada penerusnya,” kata Edwin.

Lebih lanjut, Edwin menegaskan bahwa PMTS bersifat inklusif dan terbuka untuk siapa saja. “Komunitas ini tidak terbatas hanya bagi orang keturunan Tionghoa; siapa pun yang tertarik dengan budaya Tionghoa boleh bergabung,” katanya.

Ia juga menyebut bahwa keberagaman latar belakang di Indonesia menjadi kekuatan untuk saling belajar dan memahami budaya satu sama lain. Sementara itu, Liong Pascariana menjelaskan visi besar komunitas dalam menjaga eksistensi budaya di era modern.

“Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mempererat hubungan antar komunitas Tionghoa yang terpecah menjadi banyak perkumpulan, serta berkolaborasi dengan organisasi lain di luar komunitas kami,” ucapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya mengenalkan budaya kepada generasi muda yang mulai kehilangan identitas. Liong turut memaparkan berbagai kegiatan yang dilakukan PMTS, mulai dari pembelajaran filosofi tradisi, seni bela diri, bahasa Mandarin, hingga kegiatan sosial dan edukasi.

“Kami rutin mengadakan bakti sosial dan seminar, bahkan ke depan berencana memberikan edukasi keuangan dan investasi bagi anak muda,” ujarnya.

Di akhir dialog, Edwin berharap PMTS semakin dikenal luas. “Saya berharap agar PMTS bisa menjadi wadah pertukaran ilmu yang bermanfaat dengan berbagai budaya lain di Surabaya dan Jawa Timur,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....