Gepeng Musiman, Dilema Sosial Masyarakat

  • 11 Mar 2026 11:56 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Menjelang Ramadan hingga Lebaran, keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) kembali terlihat di sejumlah kota besar di Indonesia. Fenomena yang hampir muncul setiap tahun ini tidak hanya berkaitan dengan ketertiban umum, tetapi juga mencerminkan persoalan sosial di masyarakat.

Koordinator Program Studi S2 Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Surabaya, Moh. Mudzakir, menilai kemunculan gepeng pada momentum Ramadan dan Lebaran dapat dipahami sebagai fenomena sosial sekaligus pilihan bagi sebagian orang.

Menurutnya, ada faktor keterpaksaan ekonomi yang membuat sebagian masyarakat turun ke jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun di sisi lain, aktivitas mengemis juga kerap dipandang sebagai profesi musiman yang dianggap menguntungkan, bahkan dalam beberapa kasus dilakukan secara terorganisir oleh oknum tertentu.

“Sebagian memang karena tuntutan ekonomi, tetapi ada juga yang menjadikannya sebagai profesi musiman karena dianggap menguntungkan, bahkan dilakukan secara terorganisir,” ujarnya dalam dialog Aspirasi di RRI Pro 1 Surabaya, Rabu, 11 Maret 2026.

Data Kementerian Sosial Republik Indonesia menunjukkan penanganan gelandangan dan pengemis masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Pemerintah daerah secara berkala melakukan penertiban melalui operasi yang melibatkan satuan polisi pamong praja dan dinas sosial, terutama menjelang hari besar keagamaan.

Namun menurut Mudzakir, langkah penertiban melalui patroli atau razia saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Pemerintah perlu mengimbanginya dengan pendekatan pemberdayaan bagi kelompok masyarakat rentan.

“Harus ada pendampingan, pelatihan keterampilan, serta bantuan usaha agar mereka memiliki alternatif pekerjaan dan tidak kembali lagi menjadi pengemis,” ucapnya.

Ia menambahkan, fenomena gepeng yang terus berulang juga mencerminkan adanya ketimpangan kesejahteraan di masyarakat. Karena itu, diperlukan upaya lebih luas seperti memperbanyak lapangan pekerjaan, memberikan bantuan sosial bagi kelompok miskin, serta program pemberdayaan ekonomi.

Selain pendekatan ekonomi, pembinaan melalui pendidikan dan penguatan nilai spiritual juga dinilai penting untuk membangun pola pikir yang lebih mandiri di masyarakat.

Di sisi lain, fenomena gepeng saat Ramadan dan Lebaran juga menimbulkan dilema bagi masyarakat. Ramadan identik dengan semangat berbagi, sementara budaya masyarakat Indonesia dikenal memiliki empati dan semangat gotong royong yang tinggi.

Karena itu, banyak pihak mengimbau masyarakat menyalurkan bantuan melalui lembaga resmi pengelola zakat atau lembaga sosial agar bantuan dapat diberikan kepada pihak yang benar-benar membutuhkan.

Mudzakir menegaskan penanganan persoalan gepeng tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi memerlukan kerja sama berbagai pihak, termasuk koordinasi antar pemerintah daerah.

“Pemerintah perlu menghadirkan solusi jangka pendek maupun jangka panjang agar persoalan gepeng yang muncul setiap Ramadan dan Lebaran dapat ditangani secara lebih berkelanjutan,” ujarnya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....