Jejak Sejarah Aksara Jawa dari India hingga Nusantara

  • 05 Mar 2026 20:41 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Aksara Jawa merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang menyimpan sejarah panjang dalam perkembangan tradisi tulis masyarakat. Aksara ini tidak hanya berfungsi sebagai sistem tulisan, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban di Pulau Jawa.

Hal tersebut disampaikan oleh Esa Putra Kurniawan, Penerjemah Ahli Pertama Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, dalam program Sinau Basa Jawa, Kamis 5 Maret 2026. Menurutnya, tradisi tulis di Nusantara sudah berkembang sejak masa Hindu-Buddha.

Pada masa itu, masyarakat telah menggunakan aksara untuk mencatat berbagai pengetahuan. Mulai dari kitab keagamaan, aturan hukum, hingga cerita kepahlawanan dan ajaran moral. Tradisi tersebut melahirkan banyak naskah kuno yang hingga kini menjadi sumber penting dalam kajian sejarah.

Esa menjelaskan, Aksara Jawa memiliki hubungan erat dengan aksara yang lebih tua. Aksara ini merupakan turunan dari aksara Kawi, yang sebelumnya berkembang dari aksara Pallawa dan berakar dari aksara Brahmi di India.

“Perkembangan itu terjadi secara bertahap seiring interaksi budaya dan agama yang masuk ke wilayah Nusantara,” ujarnya.

Perubahan bentuk aksara juga terjadi ketika masa peralihan dari era Hindu-Buddha menuju berkembangnya pengaruh Islam di Jawa. Dalam periode tersebut, aksara Kawi mengalami penyesuaian hingga melahirkan bentuk baru yang kemudian dikenal sebagai Aksara Jawa atau Hanacaraka.

Secara historis, Aksara Jawa dikenal dengan berbagai sebutan seperti Hanacaraka, Carakan, maupun Dentawyanjana. Aksara ini tidak hanya digunakan untuk menulis bahasa Jawa, tetapi juga pernah dipakai untuk menuliskan bahasa lain seperti Sunda, Madura, hingga Sasak.

Selain penjelasan sejarah, masyarakat Jawa juga mengenal legenda yang berkaitan dengan asal-usul aksara tersebut, yakni kisah Aji Saka. Dalam cerita itu, susunan aksara Hanacaraka dipercaya diciptakan untuk mengenang dua pengikut setia Aji Saka, yaitu Dora dan Sembada.

Susunan dasar aksara Jawa sendiri terdiri dari dua puluh huruf yang dirangkai dalam kalimat terkenal, yakni Ha Na Ca Ra Ka, Da Ta Sa Wa La, Pa Dha Ja Ya Nya, Ma Ga Ba Tha Nga. Rangkaian ini tidak hanya berfungsi sebagai alfabet, tetapi juga mengandung makna filosofis tentang kesetiaan, tanggung jawab, dan pengorbanan.

Saat ini penggunaan Aksara Jawa memang tidak lagi dominan karena masyarakat lebih banyak memakai alfabet Latin. Namun berbagai upaya pelestarian terus dilakukan, mulai dari pembelajaran di sekolah, penelitian bahasa, hingga penggunaan aksara Jawa pada papan nama, karya seni, maupun media digital.

Melalui pemahaman sejarah dan maknanya, generasi muda diharapkan dapat semakin menghargai Aksara Jawa sebagai bagian dari identitas budaya. Pelestarian aksara ini dinilai penting agar warisan literasi Nusantara tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....