Eskalasi Timur Tengah Tekan Ekonomi RI

  • 04 Mar 2026 11:43 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi memberi tekanan serius terhadap perekonomian Indonesia, terutama dari sisi energi dan inflasi. Hal itu disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Prof. Rahma Gafmi, dalam Dialog Aspirasi RRI Pro 1 Surabaya, Rabu, 4 Maret 2026.

Prof. Rahma menegaskan, eskalasi konflik di kawasan produsen minyak dunia akan berdampak langsung pada negara pengimpor energi seperti Indonesia.

“Eskalasi di Timur Tengah sangat berdampak pada perekonomian Indonesia. Bahkan bisa memicu inflasi karena fundamental ekonomi kita belum cukup kuat, terutama di sektor manufaktur dan investasi dalam negeri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, struktur ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan pada penguatan industri pengolahan dan konsistensi investasi domestik. Menurutnya, upaya hilirisasi dan penguatan manufaktur memang telah dilakukan, namun belum berjalan konsisten dan belum sepenuhnya menjadi prioritas utama dalam menopang ketahanan ekonomi jangka panjang.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, kebutuhan minyak nasional masih jauh di atas produksi domestik. Produksi minyak berada di kisaran 600 ribu barel per hari, sedangkan konsumsi mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari. Kondisi ini membuat Indonesia bergantung pada impor, sehingga rentan terhadap gejolak harga minyak global.

“Jika konflik di Timur Tengah meluas dan mengganggu distribusi energi dunia, ketergantungan kita akan sangat terasa. Dampaknya bukan hanya pada harga BBM, tetapi juga biaya produksi dan harga barang yang berujung pada inflasi,” katanya.

Untuk itu, Prof. Rahma mendorong pemerintah menyiapkan strategi ekonomi yang terukur. Salah satunya dengan melakukan diversifikasi sumber impor energi agar tidak bergantung pada satu kawasan.

“Pemerintah perlu melakukan pergeseran sumber impor. Jangan hanya bertumpu pada Timur Tengah, tetapi memperluas kerja sama dengan negara produsen lain yang lebih stabil secara geopolitik,” tuturnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan industri dalam negeri agar struktur ekonomi lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Penguatan sektor manufaktur dinilai mampu menekan ketergantungan impor dan meningkatkan nilai tambah domestik.

Strategi lainnya adalah percepatan transisi menuju energi baru terbarukan. Menurut Prof. Rahma, diversifikasi hijau bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga ketahanan ekonomi jangka panjang.

“Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi langkah menuju kemandirian energi sekaligus memperkuat stabilitas ekonomi,” ujarnya.

Ia juga menekankan perlunya penguatan APBN dan peningkatan cadangan energi nasional sebagai langkah mitigasi fiskal. Dengan kombinasi diplomasi ekonomi aktif, diversifikasi impor, penguatan industri, dan transisi energi, Indonesia dinilai dapat meminimalkan dampak gejolak global terhadap perekonomian domestik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....