Kurang Tidur dan Stres Picu Gangguan Memori Remaja
- 24 Feb 2026 09:45 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Fenomena remaja yang kerap mengeluh pelupa di usia muda kini menjadi perhatian serius berbagai kalangan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu produktivitas, konsentrasi, hingga kreativitas generasi muda apabila tidak segera ditangani. Orang tua, pendidik, hingga akademisi mulai menyoroti pola hidup modern sebagai faktor utama penyebab masalah ini.
Menanggapi fenomena tersebut, dokter gizi asal Surabaya, Dr. Sisca Wulandari, SpGK, memberikan pandangannya saat dihubungi Pro 1 melalui sambungan telepon pada Selasa, 24 Februari 2026. Ia menilai anggapan bahwa remaja masa kini memiliki daya ingat lemah perlu diluruskan secara ilmiah.
“Remaja zaman sekarang sering merasa pelupa bukan karena memori lemah, tetapi karena otak kewalahan,” ungkap Dr. Sisca Wulandari. Menurutnya, otak remaja saat ini menerima terlalu banyak rangsangan informasi dalam waktu bersamaan.
Ia menjelaskan kebiasaan multitasking digital, seperti berpindah cepat antar aplikasi, media sosial, dan tugas akademik, membuat perhatian mudah terpecah. Kondisi ini menyebabkan otak kesulitan memproses informasi secara mendalam sehingga memori tidak tersimpan dengan optimal.
“Menurut penelitian neurosains, memori terganggu saat perhatian kita terpecah,” tegasnya. Ketika fokus terus berpindah, otak tidak memiliki cukup waktu untuk mengubah informasi menjadi ingatan jangka panjang yang kuat.
Selain distraksi digital, kurang tidur juga menjadi faktor penting yang sering diabaikan anak muda. Dr. Sisca menegaskan bahwa tidur memiliki peran vital dalam menjaga fungsi otak dan kualitas daya ingat seseorang.
“Penelitian Stanford menyebut tidur itu waktu otak backup data memori,” ujarnya. Ia menambahkan, kebiasaan begadang dan pola tidur yang tidak teratur dapat menghambat proses penyimpanan memori sehingga seseorang menjadi lebih mudah lupa.
Faktor lain yang turut memperburuk kondisi ini adalah stres. Dalam situasi tertekan, otak secara alami masuk ke mode bertahan hidup yang lebih fokus pada ancaman dibandingkan proses mengingat. “Stres juga diam-diam bikin memori kita melemah. Otak mode survival lebih fokus ke ancaman daripada ingatan,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Dr. Sisca mengajak generasi muda untuk mulai merawat kesehatan otak melalui langkah sederhana seperti melatih memori dengan menulis, mengurangi multitasking, fokus pada satu pekerjaan dalam satu waktu, serta menjaga kualitas tidur. “Jadi kalau anak muda sekarang sering lupa, mungkin bukan karena memori lemah tapi otak sedang kecapekan. Jadi rawat otak mulai sekarang,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....