Psikolog Ungkap Fenomena Gaib dari Sisi Ilmiah
- 19 Feb 2026 02:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Tren cerita-cerita misteri kembali marak di media sosial dalam beberapa waktu terakhir. Berbagai platform dipenuhi unggahan pengguna yang membagikan pengalaman melihat atau merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata. Tagar bertema mistis pun kerap menghiasi daftar topik populer, memicu rasa penasaran sekaligus perdebatan di kalangan warganet mengenai kebenaran fenomena tersebut.
Tidak hanya berbentuk cerita, sebagian kreator konten juga menayangkan siaran langsung yang diklaim memperlihatkan fenomena gaib secara real time. Tayangan ini berhasil menyedot perhatian puluhan ribu penonton yang ingin menyaksikan langsung kejadian tersebut. Banyak penonton mengaku merinding, bahkan percaya bahwa apa yang ditampilkan merupakan peristiwa nyata.
Di tengah maraknya fenomena ini, pengalaman melihat atau merasakan kehadiran makhluk astral ternyata dapat ditinjau dari perspektif psikologis. Hal tersebut disampaikan Wenika, seorang Psikolog Klinis dari Surabaya, dalam keterangannya melalui sambungan telepon di Pro 1 pada Rabu, 18 Februari 2026. Ia menjelaskan bahwa dalam dunia psikologi terdapat istilah pareidolia, yakni ilusi visual yang mencerminkan kreativitas otak dalam menafsirkan stimulus ambigu menjadi sesuatu yang bermakna.
Menurut Wenika, pengalaman melihat sosok yang dianggap gaib bukanlah hal yang jarang terjadi. “Pengalaman semacam ini bukanlah hal yang jarang terjadi. Saya sendiri pernah mengalaminya—sekilas melihat bayangan, lalu langsung bertanya dalam hati apa yang sebenarnya terlihat. Setelah diperhatikan kembali, ternyata hanya jemuran atau bayangan pohon,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan cara kerja otak yang kerap mengambil kesimpulan sebelum memperoleh bukti yang cukup. “Ketika suasana sedikit gelap dan sunyi, imajinasi dapat bekerja lebih aktif. Rasa takut pun muncul, diikuti reaksi fisik seperti detak jantung meningkat dan tubuh menegang, padahal objek yang dilihat mungkin hanya benda acak tanpa makna tertentu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wenika menyebut rasa takut dapat memperkuat keyakinan terhadap kesimpulan yang keliru. “Fenomena ini dikenal sebagai efek pareidolia, yaitu kondisi ketika otak memaksakan pengenalan pola familiar seperti wajah atau sosok pada objek yang sebenarnya tidak memiliki pola tersebut. Ibaratnya, otak manusia seperti petugas keamanan yang terlalu sigap,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa bagian otak bernama fusiform gyrus di lobus temporal korteks berperan dalam pengenalan wajah, bahkan bayi yang baru lahir pun telah memiliki kecenderungan mencari bentuk wajah sebagai bagian dari mekanisme evolusi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....