Cagar Budaya Terancam, Dewan Kesenian Jember Dorong Digitalisasi
- 04 Feb 2026 09:50 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Hilangnya cagar budaya tak hanya disebabkan usia bangunan, tetapi juga kelalaian manusia. Mulai dari pencurian, perusakan, hingga modernisasi yang tak terkendali menjadi ancaman serius bagi warisan sejarah.
Dewan Pakar Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Jember, Sapto Raharjanto, menegaskan pelestarian cagar budaya bukan semata tanggung jawab pemerintah. Menurutnya, masyarakat juga memegang peran penting menjaga peninggalan bersejarah tersebut.
"Mencegah hilangnya cagar budaya bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga tanggung jawab kita sebagai masyarakat," ujar Sapto kepada RRI, Rabu 4 Februari 2026.
Sapto menjelaskan, kerusakan cagar budaya bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Tidak hanya fisik, tetapi juga hilangnya nilai sejarah akibat pembangunan modern yang tak terkendali.
Untuk mencegah hal itu, ia menyarankan langkah pertama berupa pendataan dan digitalisasi. Inventarisasi resmi diperlukan agar setiap objek memiliki status hukum yang jelas.
"Langkah pertama untuk melindungi adalah mengetahui apa saja yang kita miliki. Pendataan harus masuk register nasional agar punya kekuatan hukum," katanya.
Selain itu, dokumentasi digital juga penting sebagai cadangan data. Menurut Sapto, arsip tiga dimensi, foto resolusi tinggi, hingga pemetaan digital bisa menjadi cetak biru jika terjadi kerusakan.
"Kalau rusak, kita masih punya data untuk direstorasi ulang," jelasnya.
Perlindungan hukum dan fisik juga tak kalah krusial. Ia menekankan penegakan tegas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
"Tanpa aturan yang tegas, cagar budaya rentan dieksploitasi. Pelaku pencurian atau perdagangan ilegal harus ditindak," tegas Sapto.
Ia juga mendorong penerapan zonasi kawasan penyangga. Langkah ini bertujuan mencegah pembangunan gedung modern yang merusak estetika dan struktur situs bersejarah.
Selain perlindungan, Sapto menilai cagar budaya harus tetap hidup melalui pemanfaatan adaptif. Bangunan lama bisa dialihfungsikan tanpa mengubah struktur aslinya.
| Baca juga: AI Canggih, Tata Krama Tetap Dijaga |
"Bangunan tua bisa jadi museum, kafe, atau galeri. Jadi tetap relevan dengan masa kini, tidak ditinggalkan," ujarnya.
Menurutnya, pengemasan narasi sejarah juga penting agar pengunjung merasakan ikatan emosional. Cerita bisa disampaikan lewat pemandu atau aplikasi edukasi.
Di sisi lain, edukasi publik menjadi fondasi utama pelestarian. Ia menyebut ketidaktahuan masyarakat sebagai musuh terbesar cagar budaya.
"Sejarah lokal harus dikenalkan sejak dini di sekolah. Komunitas sekitar juga harus dilibatkan sebagai penjaga," katanya.
Sapto menambahkan, ketika warga merasa memiliki manfaat ekonomi dari wisata sejarah, kesadaran menjaga akan tumbuh otomatis. "Kalau masyarakat merasa memiliki, mereka sendiri yang akan melindungi," katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....