BMKG: Kenaikan Muka Air Laut Kian Mengkhawatirkan

  • 12 Jan 2026 13:17 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Kenaikan muka air laut atau sea level rise menjadi salah satu dampak nyata perubahan iklim yang kini semakin dirasakan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Direktorat Meteorologi Maritim BMKG melalui akun @bmkgmaritim menyebutkan bahwa fenomena ini terjadi secara perlahan, namun konsisten dari tahun ke tahun, dengan tren yang terus meningkat.

Secara global, pada periode 1901 hingga 1990, muka air laut mengalami kenaikan rata-rata sekitar 1,4 milimeter per tahun. Namun, laju kenaikan tersebut meningkat signifikan pada periode 2006 hingga 2015, yakni mencapai 3,6 milimeter per tahun. Peningkatan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim semakin mempercepat dinamika laut dunia.

Dalam edukasi yang disampaikan kepada masyarakat melalui rilis di akun instagram @bmkgmaritim, Sea level rise didefinisikan sebagai kenaikan rata-rata permukaan laut secara global yang dipicu oleh pemanasan global. Terdapat dua penyebab utama dari fenomena ini, yakni mencairnya es di kutub dan gletser, serta pemuaian air laut (thermal expansion) akibat meningkatnya suhu bumi.

Di Indonesia, dampak kenaikan muka air laut semakin nyata dirasakan di wilayah pesisir. Di Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, ribuan hektare lahan permukiman dan tambak dilaporkan telah hilang akibat tergerus air laut. Kondisi ini diperparah oleh kombinasi kenaikan muka laut dan penurunan permukaan tanah yang mencapai 10 hingga 15 sentimeter per tahun, menyebabkan kawasan tersebut perlahan tenggelam.

Sementara itu, wilayah Jakarta Utara menghadapi tantangan yang tidak kalah serius. Daerah ini mengalami land subsidence atau penurunan tanah tertinggi di dunia, yang di beberapa titik mencapai lebih dari 10 sentimeter per tahun. Akibatnya, kawasan pesisir Jakarta Utara menjadi sangat rentan terhadap banjir rob yang semakin sering terjadi.

Dampak dari kenaikan muka air laut tidak hanya berupa hilangnya rumah dan bangunan di wilayah pesisir, tetapi juga berkurangnya lahan pertanian dan tambak yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat. Selain itu, kondisi ini berpotensi memicu pergeseran penduduk, yang membutuhkan dukungan dalam proses adaptasi sosial dan ekonomi.

Dari sisi lingkungan, kenaikan muka laut juga mengganggu stabilitas ekosistem pesisir. Kerusakan rantai makanan laut hingga fenomena coral bleaching atau pemutihan terumbu karang menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan sumber daya laut.

Di tengah tantangan tersebut, harapan datang dari kerja sama global melalui High Seas Treaty, sebuah perjanjian internasional yang bertujuan melindungi keanekaragaman hayati laut di luar yurisdiksi negara. Hingga September 2025, perjanjian ini telah diratifikasi oleh 60 negara dan dijadwalkan resmi berlaku mulai Januari 2026.

Perjanjian ini diharapkan mampu melindungi ekosistem laut yang berperan sebagai penyerap karbon alami (carbon sink) serta mengurangi tekanan terhadap peningkatan suhu laut global, yang jika terus berlanjut dapat mempercepat kenaikan muka air laut.

BMKG mengingatkan bahwa meskipun kenaikan muka air laut terjadi secara perlahan, dampaknya bersifat jangka panjang dan sistemik. Oleh karena itu, upaya mitigasi, adaptasi, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah penting untuk menghadapi ancaman perubahan iklim di wilayah pesisir Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....