Kuliner Tengah Malam Surabaya, Ada Alasan di Baliknya

  • 15 Sep 2026 17:53 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Ketika sebagian orang mulai beristirahat, sejumlah tempat makan justru masih ramai didatangi. Kuliner tengah malam menjadi pilihan sebagian warga untuk mengisi perut, berkumpul bersama teman, atau menikmati suasana malam.

Fenomena kuliner malam bukan sekadar soal makanan. Ada alasan dan kebiasaan tertentu yang membuat seseorang memilih makan di luar rumah ketika hari sudah larut.

Penelitian Universitas Surabaya mengenai perilaku konsumen kuliner malam di Surabaya menunjukkan konsumen yang diteliti berada pada kisaran usia 18 hingga 25 tahun dan mayoritas merupakan pelajar atau mahasiswa. Pengaruh teman menjadi salah satu faktor dalam menentukan lokasi kuliner malam, sedangkan rasa makanan menjadi salah satu alasan memilih tempat tersebut, demikian tulis hasil penelitian pada Repository Universitas Surabaya.

“Konsumen memilih lokasi kuliner malam atas dasar pengaruh dari teman dan alasan memilih lokasi kuliner malam dikarenakan rasa makanan yang enak,” demikian tulis hasil penelitian Universitas Surabaya pada Repository Universitas Surabaya.

Penelitian tersebut juga mencatat, informasi mengenai tempat kuliner malam banyak diperoleh dari teman. Konsumen yang diteliti mengunjungi kuliner malam sekitar satu hingga dua kali dalam sebulan. Temuan ini menunjukkan aktivitas kuliner malam dapat menjadi bagian dari kegiatan sosial, bukan hanya kebutuhan makan.

Namun, ada sisi lain yang menarik ketika waktu makan bergeser semakin larut. Institut Jantung, Paru, dan Darah Nasional Amerika Serikat menjelaskan bahwa penelitian mengenai waktu makan dan jam biologis tubuh menunjukkan adanya hubungan antara waktu seseorang makan dengan proses metabolisme.

Sejumlah penelitian yang dibahas lembaga tersebut menemukan, makan pada malam hari dalam kondisi tertentu dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Meski demikian, dampaknya tidak dapat disamaratakan karena pola tidur, aktivitas fisik, jenis makanan, serta kondisi biologis seseorang juga ikut berperan.

Penelitian yang didukung Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat juga menguji 19 orang dewasa sehat dalam kondisi kerja malam yang disimulasikan. Peserta yang makan pada malam hari mengalami peningkatan rata-rata kadar glukosa sebesar 6,4 persen. Sementara peserta yang hanya makan pada siang hari tidak mengalami peningkatan serupa.

Temuan tersebut bukan berarti makan tengah malam sekali langsung menyebabkan penyakit tertentu. Penelitian dilakukan dalam kondisi khusus dan masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami pengaruh waktu makan pada kondisi kehidupan sehari-hari.

Karena itu, menikmati kuliner tengah malam tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang otomatis buruk. Yang lebih penting adalah melihat kebiasaan secara keseluruhan, mulai dari frekuensi makan larut malam, jenis dan jumlah makanan, aktivitas fisik, hingga waktu tidur.

Di tengah aktivitas kota yang terus berjalan hingga malam, kuliner akhirnya menjadi bagian dari kehidupan setelah matahari terbenam. Bagi sebagian orang, makanan mungkin menjadi tujuan utama. Namun bagi yang lain, justru pertemanan dan suasana malam yang membuat mereka kembali datang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....